Deklarasi Aliansi Pegiat Lingkungan Hidup (AHLI) Sulawesi Tengah sebagai wadah bersama dalam memperkuat perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup.. (©AHLI Sulteng)
Deklarasi Aliansi Pegiat Lingkungan Hidup (AHLI) Sulawesi Tengah sebagai wadah bersama dalam memperkuat perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup.. (©AHLI Sulteng)

Deklarasi AHLI Sulteng: Dari Keprihatinan Bersama Menuju Gerakan Kolektif Keadilan Ekologis

PALU, rindang.ID | Di tengah hiruk pikuk pembangunan yang terus bergulir di Sulawesi Tengah, sekelompok pegiat lingkungan hidup memilih untuk berdiri bersama. Mereka mendeklarasikan Aliansi Pegiat Lingkungan Hidup (AHLI) Sulawesi Tengah, sebuah wadah kolaborasi yang lahir dari keprihatinan mendalam akan nasib alam dan masyarakat yang kian terancam.

Deklarasi ini bukan sekadar seremonial. Di baliknya, terdapat catatan panjang kerusakan lingkungan yang terus berulang: hutan yang gundul, tambang yang merusak, sungai yang tercemar, dan masyarakat yang kehilangan ruang hidupnya. Lebih dari itu, ada kesadaran kolektif bahwa krisis lingkungan tak bisa lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata—ia adalah persoalan keadilan.

Ketika Alam Rusak, Siapa yang Jadi Korban Pertama?

Azmi Sirajuddin, salah satu perwakilan AHLI, menegaskan bahwa kerusakan lingkungan di Sulawesi Tengah telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Deforestasi, pertambangan yang tidak berkelanjutan, pencemaran lingkungan, hingga lemahnya penegakan hukum lingkungan menjadi catatan kelam yang terus berulang.

“AHLI Sulawesi Tengah hadir sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menjaga alam sebagai sumber kehidupan. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan hari ini, tetapi juga ancaman serius bagi masa depan generasi mendatang,” ujarnya.

Namun yang membuat AHLI berbeda adalah perspektifnya yang melampaui sekadar pelestarian alam. Aliansi ini melihat bahwa ketika lingkungan hancur, dampaknya tidak merata. Masyarakat adat, petani, nelayan, buruh, kaum miskin perkotaan—mereka adalah yang pertama merasakan akibatnya. Dan di antara mereka, perempuan dan anak-anak selalu menjadi kelompok paling rentan.

Beban Berlapis Perempuan di Tengah Krisis Ekologis

Soraya Sultan, aktivis perempuan yang juga menjadi perwakilan AHLI, membawa perspektif yang sering luput dari pembahasan lingkungan: dimensi keadilan gender. Menurutnya, krisis lingkungan memiliki wajah yang berbeda bagi perempuan.

“Ketika lingkungan rusak, perempuan kerap menghadapi beban berlapis, mulai dari keterbatasan akses air bersih dan pangan, meningkatnya kerja perawatan, hingga risiko terhadap kesehatan reproduksi dan keselamatan anak termasuk meningkatnya pernikahan usia anak,” jelasnya.

Soraya menekankan bahwa upaya perlindungan lingkungan harus berjalan seiring dengan perlindungan hak perempuan dan anak. “Tidak ada keadilan iklim tanpa keadilan gender,” tegasnya.

Pandangan ini menempatkan AHLI dalam posisi yang lebih komprehensif—bukan hanya sebagai gerakan lingkungan, tetapi juga gerakan keadilan sosial yang memahami bahwa kehancuran alam selalu berkelindan dengan pelanggaran hak asasi manusia.

Strategi Gerakan: Dari Advokasi hingga Pengorganisasian Rakyat

AHLI tidak hadir dengan tangan kosong. Aliansi ini telah merumuskan strategi kerja yang jelas dengan tujuan utama mendorong agenda perubahan sosial menuju keadilan ekologis di Sulawesi Tengah.

Strategi yang akan dijalankan meliputi advokasi kebijakan lingkungan, edukasi dan pendidikan kritis untuk penguatan peran masyarakat, pengawalan praktik pembangunan agar sejalan dengan prinsip keberlanjutan berkeadilan gender, kampanye kesadaran publik, hingga pengorganisasian gerakan rakyat.

Yang menarik, AHLI membuka diri sebagai wadah bagi individu dengan beragam latar belakang—dari akademisi, aktivis HAM, hingga pegiat akar rumput—untuk saling menguatkan dan bersinergi dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Ajakan untuk Semua Pihak

Melalui deklarasi ini, AHLI tidak hanya berbicara kepada sesama pegiat lingkungan. Mereka mengajak pemerintah daerah, pelaku usaha, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan hidup, menghentikan praktik perusakan alam, serta mendorong pembangunan yang ramah lingkungan dan berkeadilan sosial.

Ini adalah panggilan kolektif yang menyadari bahwa persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan kerja bersama, komitmen konsisten, dan kesadaran bahwa menjaga alam adalah menjaga kehidupan itu sendiri.

Tonggak Baru Perjuangan Lingkungan Sulteng

Deklarasi AHLI Sulawesi Tengah menjadi tonggak komitmen bersama untuk terus berjuang secara konsisten, kritis, dan bertanggung jawab demi masa depan lingkungan hidup yang lestari dan berkeadilan.

Di tengah tantangan pembangunan yang terus menggoda dengan janji-janji ekonomi jangka pendek, kehadiran AHLI mengingatkan kita bahwa ada hal yang lebih berharga dari sekadar pertumbuhan ekonomi: keseimbangan ekosistem, keadilan sosial, dan masa depan generasi mendatang.

Seperti yang disampaikan Azmi dalam penutup deklarasi, aliansi ini bukan hanya soal organisasi, tetapi tentang komitmen moral untuk berdiri bersama rakyat yang mempertahankan ruang hidupnya. Karena pada akhirnya, menjaga alam adalah menjaga kehidupan—dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top