Warga menanam pohon bambu di bantaran Sungai Kawatuna, Palu, Jumat (23/5/2025). (rindang.ID/Basri Marzuki)

Merawat Sungai, Merawat Kehidupan: Aksi Hijau di Bantaran Sungai Kawatuna

PALU, rindang.ID | Jumat pagi (23/5/2025), bantaran Sungai Kawatuna di Kelurahan Lasoani, Kota Palu, menjadi saksi sebuah gerakan hijau yang digerakkan oleh tangan-tangan penuh harapan. Sejumlah warga, mahasiswa, dan para pemangku kepentingan berkumpul dengan semangat yang sama—menanam kehidupan di tepian sungai.

Di antara deretan bibit bambu dan trembesi yang siap ditanam, Moh Arif Lamakarate, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu, berdiri bersama para peserta, berbincang tentang pentingnya menjaga ekosistem sungai.

Di sampingnya, hadir perwakilan Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS), Prof Nur Sangaji dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Untad, serta Lurah Lasoani, menandai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam satu tujuan—melindungi sungai dari abrasi.

Sebanyak 100 pohon bambu dan 60 pohon trembesi ditanam di sepanjang tepian sungai. Bambu dipilih karena kemampuannya tumbuh cepat dan akar kuatnya yang mampu menahan abrasi, sementara trembesi, dengan kanopinya yang lebat, akan memberikan keteduhan serta menyerap karbon di udara.

Sungai Kawatuna, yang sebelumnya mengalami normalisasi oleh BWSS, kini mendapatkan perlindungan ekstra dari akar pohon yang akan menahan erosi. Tak hanya sekadar menanam, aksi ini juga menjadi pengingat bagi warga akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

“Kami ingin sungai ini tetap lestari, karena sungai bukan hanya tempat mengalirnya air, tetapi juga kehidupan bagi kita semua,” ujar Moh Arif Lamakarate.

Aksi ini bukan yang terakhir. DLH Kota Palu berjanji akan memberikan lebih banyak bibit pohon bagi wilayah ini, memastikan bahwa pohon-pohon yang ditanam akan terus bertumbuh dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Di sela kegiatan, seorang mahasiswa dari Universitas Tadulako berbisik, “Ini bukan hanya tentang menanam pohon, tapi menanam kesadaran. Kita harus terus menjaga ini.”

Di bantaran Sungai Kawatuna, pagi itu bukan hanya tentang pohon-pohon yang ditanam, tetapi juga tentang harapan akan lingkungan yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih lestari bagi Palu dan masyarakatnya. (bmz)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top