Aktivitas membaca di lapak yang dibuka oleh Komunitas Palu BaBaca di Taman Vatulemo, Kota Palu di akhir pekan. (Foto: Komunitas Palu BaBaca)

Cerita Kecil dari Lapak Palu BaBaca: Ketika Komunitas Mengisi Kekosongan Ruang Baca di Taman Kota

PALU, rindang.ID | Kota Palu terus bangkit dari bencana 2018. Gedung diperbaiki, taman ditata, ruang publik kembali dihidupkan. Namun, di balik pembangunan fisik itu, ada ruang yang kerap terabaikan, yakni ruang untuk membaca. Dan di Taman Vatulemo, komunitas literasi mencoba mengisi kekosongan itu dengan menggelar buku di atas tikar dan meja sederhana. Di sana warga menemukan kegembiraan membaca.

Secara resmi, Palu sebenarnya sudah punya perpustakaan sebagai pusat literasi. Di Kelurahan Talise tempatnya. Namun, bagi sebagian masyarakat, akses ke ruang baca itu belum sepenuhnya ramah. Jarak yang cukup jauh, ditambah jam operasional yang hanya sampai sore hari, membuat banyak warga kesulitan memanfaatkan fasilitas tersebut. Padahal, waktu luang justru sering datang setelah aktivitas kerja dan sekolah usai.

Menariknya, minat baca masyarakat Palu sebenarnya cukup tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah tahun 2024, Kota Palu menduduki peringkat ketiga dengan skor mencapai 71,92.

Hal itu juga terlihat setiap kali ruang baca dibuka di ruang publik. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa datang dengan antusias. Sayangnya, semangat ini belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan ruang literasi yang fleksibel dan berkelanjutan. Kondisi inilah yang mendorong lahirnya berbagai inisiatif komunitas, salah satunya Palu BaBaca.

Buku-Buku di Ruang Tanpa Sekat

Sabtu sore di Taman Vatulemo selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Di salah satu sudut taman, beberapa tikar digelar. Di atas meja sederhana, tumpukan buku tersusun rapi. Ada buku cerita anak, komik edukatif, hingga buku pengetahuan populer.

Anak-anak mengerubungi meja itu. Sebagian memilih buku, sebagian lain sudah tenggelam dalam bacaan. Tak jauh dari sana, orang dewasa duduk santai sambil membuka halaman demi halaman. Ada pula keluarga yang membacakan buku untuk anak mereka.

Lapak baca itu milik komunitas Palu BaBaca, yang hampir setiap akhir pekan membuka ruang membaca gratis di ruang publik, termasuk Vatulemo.

Bagi para penggeraknya, kegiatan ini lahir dari pengalaman masa kecil yang minim akses bacaan. Buku dulu bukan barang yang mudah ditemui, kecuali di perpustakaan sekolah.

“Pas pertama kali buka lapak dan lihat anak-anak senang, bahkan ada anak yang lagi jualan tapi singgah baca sebentar, itu jadi motivasi terbesar kami untuk terus jalan.” ujar Ariyo, pegiat literasi di Komunitas Palu BaBaca.

Di lapak membaca itu, anak-anak menemukan cerita baru, sekaligus ruang aman untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Setelah memilih buku, anak-anak menyebar di berbagai sudut taman. Ada yang duduk di bangku beton, ada yang rebahan di tikar, ada pula yang membaca bersama teman-temannya. Suasana terasa akrab dan hangat.

Di sudut lain, sebuah keluarga duduk berdekatan. Sang ibu membacakan cerita, sementara anaknya menyimak.

Momen-momen sederhana ini adalah bukti bahwa literasi tidak selalu harus hadir dalam ruang tertutup dan formal. Membaca bisa tumbuh di tengah ruang terbuka, di antara tawa anak-anak dan semilir angin sore.

Ruang baca di taman, secara tidak langsung, juga memperkuat relasi sosial. Orang-orang yang awalnya datang sendiri, pulang dengan teman baru. Anak-anak yang sebelumnya asing, mulai berbagi cerita dan buku.

Tantangan di Balik Semangat

Di balik suasana hangat itu, Komunitas Palu BaBaca masih menghadapi berbagai kendala. Yahya, penggerak Komunitas Palu BaBaca bilang, tidak semua ruang publik di Kota Palu bisa digunakan dengan mudah untuk kegiatan komunitas. Selain itu, keterbatasan jumlah buku menjadi persoalan utama.

“Kadang anak-anak sudah antusias mau baca, tapi bukunya sudah habis atau tidak cukup, terutama buku anak,” Yahya menceritakan.

Buku-buku yang ada sebagian besar berasal dari donasi dan koleksi pribadi relawan. Tanpa dukungan yang lebih luas, sulit bagi komunitas untuk terus memperbarui koleksi.

Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat mereka. Justru dari kondisi sederhana inilah lahir kreativitas.

Selain membaca, Palu BaBaca kerap menghadirkan permainan tradisional seperti gasing kayu, lompat tali karet, dan bekel. Permainan ini menjadi jembatan untuk menarik minat anak-anak sebelum mereka mulai membuka buku.

Tak jarang, anak-anak yang sedang berjualan atau mengenakan kostum badut singgah sejenak. Mereka bermain, membaca sebentar, lalu kembali bekerja. Sebuah potret kecil tentang bagaimana ruang baca mampu menjangkau mereka yang jarang tersentuh fasilitas literasi formal.

Ruang Baca sebagai Hak Warga Kota

Ruang baca yang digagas komunitas literasi di ruang publik seperti Vatulemo sesungguhnya adalah bagian dari pemenuhan hak warga, bahkan diakui oleh instrumen hak asasi manusia internasional karena memperluas akses terhadap pendidikan informal dan literasi.

Dokumen internasional seperti ‘UNESCO Public Library Manifesto’ juga menegaskan itu. Layanan baca publik disebut adalah bagian dari hak atas informasi, pendidikan, dan budaya.

Inisiatif ruang membaca informal secara gratis di ruang publik Kota Palu dinilai krusial karena menyediakan akses yang mudah ketimbang fasilitas yang dihadirkan pemerintah daerah sejauh ini. Lapak baca membantu orang-orang yang sebenarnya ingin membaca tapi tidak punya akses buku. Selain itu suasananya yang santai juga jadi daya tarik pengunjung taman kota.

“Ruang seperti ini membantu pembaca menemukan suasana membaca yang lebih santai dan terbuka,” kata pegiat literasi Komunitas Palu Book Party, Rizqi.

Bagi kebanyakan warga, ruang baca yang menghadirkan fleksibilitas, tanpa kartu anggota, dan tanpa rasa sungkan seperti yang dihadirkan komunitas-komunitas literasi adalah mimpi. Di tempat itu semua orang boleh datang, duduk, membaca, dan pulang kapan saja.

“Kalau nantinya ada yang menjembatani seperti taman baca, saya pasti mau membaca lagi. Mungkin itu bisa jadi wadah untuk kembali membiasakan diri membaca, dan juga bisa menarik perhatian lebih banyak orang,” Hariel, pengunjung Taman Vatulemo Palu berharap.

Soal peningkatan dan kemudahan akses baca warga, Pemkot Palu sendiri bukannya tanpa perhatian. Selain layanan perpustakaan konvensional, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palu juga sudah menyediakan perpustakaan digital agar masyarakat tetap dapat mengakses bacaan di mana pun.

Hanya saja diakui, akses ruang baca informal di ruang publik tak kalah penting untuk dikembangkan bersama pemerintah dan komunitas agar menjangkau lebih banyak kalangan dan latarbelakang warga.

“Tinggal kolaborasi dengan kami saja nanti. Di bagian layanan perpustakaan itu banyak juga kegiatan, mungkin bisa dimasukkan kegiatan teman-teman komunitas di situ,” Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palu, Asharrini Mastura mengatakan.

Mimpi tentang Ruang Literasi Permanen

Baik Palu BaBaca maupun para pengunjung lapak memiliki harapan yang sama, yakni hadirnya ruang literasi permanen di ruang publik Kota Palu. Sebuah taman baca yang terbuka, ramah, dan bisa diakses setiap hari.

Ruang semacam itu akan memudahkan buku disimpan, memperluas koleksi, dan memastikan keberlanjutan program.

“Kalau ada satu tempat yang tetap, aksesnya pasti lebih mudah untuk dijangkau semua orang dan kapan saja sehingga bisa berkelanjutan kedepannya,” kata Yahya.

Ruang baca permanen adalah simbol komitmen kota terhadap pendidikan dan masa depan warganya.

Palu BaBaca menunjukkan bahwa literasi bisa tumbuh dari hal kecil. Dari tikar yang digelar, dari buku bekas yang dibagikan, dari senyum anak-anak yang menemukan cerita pertama mereka.

Dan hingga kini, di Taman Vatulemo yang jadi ikon kemajuan Palu, lapak Palu BaBaca terus menghidupkan semangat; bertemu, membaca, dan berinteraksi. Menjadi solusi atas absennya perpustakaan resmi di ruang publik, serta membangun resiliensi kota dengan literasi.

Penulis: Laras

editor: rindang.ID 

Artikel ini merupakan karya kolaborasi antara rindang.ID dan Komunitas Tongbasuara, Kota Palu, yang mendorong anak muda bersuara tentang isu lingkungan dan resiliensi kota melalui tulisan, foto, dan video.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top