YOGYAKARTA,rindang.ID | Kata kolaborasi biasanya menghadirkan bayangan tentang kebersamaan, kerja bersama, atau upaya lintas batas. Raya menandakan sesuatu yang besar. Ketika dua kata itu berpadu menjadi Kolaboraya, maknanya menjelma menjadi sebuah aksi bersama, lebih dari sekadar pertemuan, tetapi gerak kolektif.
Saya tiba sedikit tergesa di gerbang pendopo Jogja National Museum (JNM), Sabtu pagi (22/11/2025). Asap dupa mengepul mengelilingi pintu masuk, membentuk lingkaran kecil yang sakral. Saking antusiasnya, saya hampir saja menginjak salah satunya sebelum seorang remaja putri mengingatkan, “Awas, Mas.”
Di tengah lingkaran itu, Regina Gandes berdiri sendiri. Suaranya yang lembut tetapi tegas memanggil orang-orang untuk mendekat. Teatrikalnya berlangsung tak lebih dari 10 menit, namun cukup untuk menancapkan pesan penting: mengapa kami datang, apa tujuan kami berkumpul, dan semangat apa yang hendak dirayakan.
“Selamat datang di Pasar Kolaboraya 2025,” ujarnya, menutup performa sekaligus membuka rangkaian kegiatan.
Tahun ini adalah penyelenggaraan kedua Pasar Kolaboraya oleh Roemah Inspirit (Roemi), berkolaborasi dengan Arkom Indonesia, sebuah yayasan berbasis Jogja yang bekerja bersama komunitas untuk membangun kawasan secara partisipatif.
Tujuan pertama saya adalah area pameran di samping pendopo. Di ruang yang tak terlalu besar itu, komunitas-komunitas dari berbagai daerah memamerkan karya terbaik mereka. Saya menyebutnya pameran praktik baik, bukan tentang produk semata, melainkan perjalanan mereka sebagai aktor perubahan.
Saya melihat pakaian daur ulang dengan pewarna alami dari mangrove, jamu jamuan yang disusun rapi lengkap dengan cerita khasiatnya, hingga maket-maket perumahan warga yang lahir dari perencanaan partisipatif ala Arkom. Di sudut lain, saya berbincang dengan komunitas yang membangun ruang-ruang kreatif di tengah kota. Semua membawa cerita, tekad, dan harapan.
Inilah Pasar Kolaboraya: ruang tempat ide-ide baik bertemu, tumbuh, dan menular.
Saya datang sebagai Ekosistem Builder mewakili rindang.ID, platform jurnalistik berbasis di Palu yang kerap mengangkat cerita-cerita dari komunitas marjinal, narasi yang sering dianggap tak “menguntungkan” bagi media arus utama. Dan benar saja. Tapi di situlah tantangannya.
Dalam dunia yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, Kolaboraya menjadi semacam ruang bernapas. Sebuah laboratorium kolaborasi di mana ratusan kreator perubahan berkumpul untuk menjawab poli-krisis zaman: perubahan iklim, krisis pangan dan energi, konflik sosial, persoalan kemanusiaan, hingga runtuhnya industri media seperti yang kami rasakan sendiri.
Tidak ada sektor yang bisa bekerja sendirian. Hanya kolaborasi lintas disiplin yang mungkin menghasilkan sesuatu yang relevan.
Selama dua hari, kami, para ekosistem builder difasilitasi untuk merumuskan prototipe perubahan melalui metode unconference, open space technology, hingga knowledge café.
Saya tergabung dalam ekosistem bertema aktivisme dan demokrasi, bersama 12 orang lain dari berbagai lembaga. Isunya terasa berat sejak awal, tetapi diskusi yang cair membuatnya dapat diurai. Di akhir proses, kami mampu menggagas rencana aksi konkret untuk satu tahun ke depan—sesuatu yang tak mungkin saya hasilkan sendirian.
Selain kami, ada ekosistem pangan lokal, budaya, sosial, ekologi, hingga teknologi yang masing-masing merumuskan cita-citanya dan mempresentasikannya di puncak acara.
Hari puncak pada 23 November menjadi simpul seluruh energi yang terkumpul. Ratusan kreator perubahan, puluhan ekosistem builder, inspirator, hingga investor sosial bertemu dalam satu ruang. Di sana, pendekatan kerja silo dilepas, diganti dengan cara pandang kolektif untuk memperluas dampak.
Catatan Roemi menyebut lebih dari 700 orang hadir, 546 koneksi tercipta, 6 aksi kolektif mulai digalang di Ruang Antara, dan 26 ekosistem memperluas jejaringnya. Angka yang mencerminkan betapa besar kebutuhan dan potensi kolaborasi hari ini.
Pasar Kolaboraya bukan hanya acara, tapi upaya membangun lanskap kolaborasi baru di Indonesia, tempat organisasi masyarakat sipil dapat saling belajar, saling menopang, dan melampaui batasnya masing-masing.
Ketika acara usai, kami semua kembali ke daerah masing-masing. Namun rasanya saya tidak benar-benar pulang. Empat WAG baru muncul di ponsel, kontak-kontak baru tak terhitung jumlahnya.
Kami masih berkabar, saling menguatkan, berbagi cerita, bahkan keluh-kesah dan amarah. Tapi kami tetap yakin satu hal: Sama-sama kita bisa.



