SIGI, rindang.ID | Banjir bandang yang berulang menerjang Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, meninggalkan pelajaran panjang bagi warga. Salah satunya bagi Imran, pria kelahiran 1964 yang kini dikenal sebagai pemantau Sungai Ore sekaligus bagian dari sistem peringatan dini bencana di desa tersebut.
“Walaupun Desa Bangga tidak hujan, Sungai Ore bisa saja mengancam kalau di daerah hulu muncul awan hitam dan gemuruh”
Penjelasan itu muncul dari Imran saat mengikuti peningkatan kapasistas peringatan dini di gedung Pusat Evakuasi Masyarakat (PEM) di Desa Bangga, Sabtu (9/8/2026). Imran memang menjadi peserta, tapi sesungguhnya dia juga adalah narasumber yang berbagi pengalaman panjang tentang Sungai Ore. Dia adalah pemantau sungai ore.
Sejak 2019 atau banjir bandang dahsyat Desa Bangga, dia kerap memperhatikan dinamika sungai Ore. Aktivitas yang membuatnya masuk dalam Kelompok Tangguh Bencana (KTB) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Baru di tahun 2022 pemerintah desa resmi menetapkannya sebagai pemantau sungai.
Karena tugasnya berkaitan dengan mendengarkan tanda-tanda awal banjir, orang-orang memberinya identitas radio “Gemuruh”. Nama itu merujuk pada suara gemuruh air dari arah hulu yang menjadi salah satu tanda yang harus ia waspadai.
“Gemuruh” kini bukan sekadar nama udara. Ia menjadi identitas Imran sebagai orang yang berada di garis depan untuk membaca tanda-tanda alam sebelum ancaman banjir mencapai permukiman.
Membaca Tanda dari Hulu
Bagi Imran, hujan yang turun di Desa Bangga bukan satu-satunya tanda yang harus diperhatikan. Kondisi di wilayah hulu Sungai Ore justru menjadi perhatian utama.
Ketika melihat awan hitam pekat menggantung di kawasan pegunungan, Imran akan meningkatkan kewaspadaan. Ia memantau perubahan warna air sungai, material kayu yang terbawa arus, kondisi aliran hingga suara guntur dan gemuruh dari arah hulu.
Jika menemukan tanda yang mengarah pada potensi banjir bandang, informasi segera disampaikan kepada ketua KTB dan kepala desa. Selanjutnya, pemerintah desa dapat mengarahkan masyarakat untuk bersiap atau melakukan evakuasi menuju titik aman, termasuk kawasan Gunung.
Pengalaman bencana 2019 membuatnya memahami bahwa ancaman dapat datang dari wilayah yang jauh dari permukiman. Material seperti kayu gelondongan, lumpur dan batu dapat terbawa dari hulu dan dalam waktu singkat mencapai wilayah desa.
Belajar dari Banjir Bandang 2019
Bencana 2019 mengubah cara pandang Imran terhadap hubungan antara kondisi hulu dan keselamatan masyarakat di hilir.
Ia melihat kerusakan vegetasi di sekitar sungai sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian. Menurut pemahamannya, penebangan pohon di kawasan sempadan sungai dapat membuat tanah lebih rentan terhadap longsor ketika hujan deras.
Pengalaman tersebut mendorong Imran untuk mengedukasi warga agar tidak menebang pohon sembarangan dan menjaga kawasan hulu. Baginya, menjaga lanskap sungai bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya melindungi rumah, lahan dan keselamatan warga di hilir.
Banjir bandang 2019 juga memperlihatkan besarnya dampak ketika sistem peringatan dini belum berjalan optimal. Endapan lumpur yang mencapai lebih dari dua meter meninggalkan kerusakan pada aset warga dan menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Dari pengalaman itulah kesadaran tentang pentingnya deteksi dini, komunikasi, dan evakuasi semakin kuat.
Radio Menjadi Penghubung Saat Jaringan Terputus
Peran Imran semakin penting karena ia juga aktif dalam Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Kemampuan berkomunikasi melalui radio menjadi modal penting ketika jaringan telepon seluler terganggu akibat cuaca buruk.
Dukungan fasilitas komunikasi juga datang dari NGO dan pemerintah daerah melalui penyediaan radio untuk jaringan komunikasi di wilayah Dolo Selatan. Dengan perangkat tersebut, informasi dari Bangga dapat diteruskan ke desa-desa lain.
Pelatihan kebencanaan yang diterima Imran dari sejumlah lembaga non-pemerintah turut meningkatkan kapasitasnya dalam mengenali tanda-tanda alam dan memahami prosedur kesiapsiagaan.
Dukungan juga datang dari lembaga lain yang bergerak dalam penguatan kapasitas masyarakat dan sistem peringatan dini berbasis lanskap, termasuk Yayasan Sheep Indonesia.
Menghubungkan Informasi dari Langit dan Lapangan
Sistem peringatan dini di Desa Bangga tidak hanya bergantung pada satu orang. Pemerintah desa, KTB, FPRB, BPBD Kabupaten Sigi, BMKG, jaringan radio serta berbagai organisasi masyarakat dan NGO terhubung dalam jejaring mitigasi.
BMKG melalui Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Djufri Palu, Mohamad Fathan, menilai peran warga seperti Imran sangat krusial dalam menyebarkan informasi dan menjaga kesiapsiagaan atas perubahan cuaca.
BMKG menyediakan informasi cuaca dan peringatan dini berbasis teknologi, sementara BPBD melalui PUSDALOPS PB membantu koordinasi informasi kebencanaan. Di lapangan, Imran menjadi mata dan telinga yang melihat langsung kondisi Sungai Ore. Di sinilah posisi “Gemuruh” menjadi penting.
“Data cuaca dari teknologi pemantauan dapat dilengkapi dengan informasi faktual dari lapangan—seperti perubahan warna air, material yang hanyut atau suara gemuruh,”
Informasi tersebut kemudian bergerak dari pemantau kepada ketua KTB dan kepala desa untuk menentukan langkah berikutnya.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir bandang, beberapa menit tambahan untuk mengetahui ancaman dapat menjadi sangat berarti.
Kini, setelah bertahun-tahun menjalankan tugasnya, Imran tidak hanya memantau sungai. Ia juga membawa pesan dari pengalaman bencana 2019: bahwa keselamatan desa tidak bisa dipisahkan dari kondisi hulu.
Menjaga pohon, mengenali tanda-tanda alam, memperkuat komunikasi dan memastikan warga mengetahui jalur evakuasi menjadi bagian dari upaya membangun ketangguhan Desa Bangga.
Di tengah ancaman banjir bandang yang masih membayangi kawasan tersebut, Imran “Gemuruh”, pria kelahiran 1964 itu memilih tetap mendengarkan suara air, guntur, dan perubahan alam dari hulu Sungai Ore—sebagai peringatan agar warga di hilir memiliki waktu untuk menyelamatkan diri.



