PALU, rindang.ID | Meski sinyal El Niño mulai menguat, hujan ekstrem masih kerap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah. Kondisi ini dinilai bukan sebagai kontradiksi, melainkan bagian dari dinamika iklim tropis yang kompleks.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri-BMKG, Asep Firman Ilahi menjelaskan, indeks Niño 3.4 pada dasarian II Mei 2026 tercatat berada di angka positif +0,97 atau mendekati kategori El Niño moderat. Namun, dampak El Niño terhadap penurunan curah hujan tidak terjadi secara instan.
“Fenomena El Niño bukan tombol on/off yang jika ditekan langsung mematikan hujan. Dampaknya berlangsung bertahap dan hujan ekstrem pada fase awal justru menjadi bagian dari masa transisi,” ujar Asep dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, El Niño memang memengaruhi pola hujan musiman dan jangka panjang, tetapi hujan ekstrem harian lebih banyak dipengaruhi dinamika atmosfer jangka pendek serta kondisi lokal di sekitar wilayah masing-masing.
Indeks Niño 3.4 mengukur anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Saat suhu laut menghangat, atmosfer membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga beberapa bulan untuk merespons melalui perubahan sirkulasi angin global atau Sirkulasi Walker.
Proses interaksi antara laut dan atmosfer membutuhkan waktu sebelum dampaknya benar-benar terasa hingga menyebabkan Indonesia mengalami kondisi lebih kering.
Selain itu kata Asep, cuaca di Sulawesi Tengah juga sangat dipengaruhi kondisi perairan sekitar seperti Laut Sulawesi, Selat Makassar, Teluk Tomini, dan Laut Maluku yang masih hangat. Kondisi tersebut memicu penguapan tinggi yang menjadi bahan bakar terbentuknya awan konvektif tebal penghasil hujan lebat dan badai petir.
Di Sulawesi Tengah, hujan deras masih terjadi di sejumlah wilayah selama Mei 2026. Kabupaten Donggala dan Sigi misalnya, masih diguyur hujan lebat akibat pengaruh lokal Teluk Palu serta konveksi pegunungan.
Namun demikian, BMKG memprediksi tren defisit hujan mulai menguat sejak Juni mendatang. Di wilayah Parigi Moutong dan Banggai, hujan ekstrem diperkirakan masih sesekali terjadi, tetapi pola musim kering mulai terasa sehingga risiko gagal panen meningkat jika musim tanam terlambat.
Sementara itu, wilayah Poso dan Tojo Una-Una diperkirakan masih mengalami hujan lokal karena faktor topografi pegunungan, meski debit sungai diprediksi menurun drastis pada Agustus hingga September.
Adapun wilayah Tolitoli dan Buol relatif lebih basah akibat pengaruh monsun barat, tetapi ancaman kekeringan tetap berpotensi terjadi jika El Niño berlanjut hingga akhir tahun.
Waspada Banjir dan Kekeringan
Asep menekankan bahwa masyarakat perlu memiliki “kewaspadaan ganda” dalam menghadapi fase transisi iklim saat ini, yakni tetap waspada terhadap potensi banjir sekaligus mulai mengantisipasi kekeringan.
Menurutnya, hujan ekstrem yang masih terjadi saat ini perlu dimanfaatkan untuk mengisi embung, waduk, dan danau sebagai cadangan air menghadapi musim kemarau panjang.
Ia juga mengingatkan jalur Trans Sulawesi, terutama kawasan Kebun Kopi yang menghubungkan Kota Palu dengan Parigi Moutong, sangat rentan longsor saat hujan lebat sehingga kesiapan alat berat di titik rawan perlu ditingkatkan.
Dalam jangka panjang, BMKG mendorong daerah lumbung pangan seperti Kabupaten Sigi, khususnya kawasan Irigasi Gumbasa, serta Parigi Moutong untuk mulai mengarahkan pola tanam ke tanaman palawija yang lebih tahan kekeringan.
Selain itu, wilayah pesisir seperti Donggala, Banggai Laut, dan Banggai Kepulauan diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi krisis air bersih.
“Indeks Niño 3.4 yang positif saat ini adalah alarm bahwa akumulasi hujan bulanan ke depan akan berada di bawah normal. Namun itu tidak menghilangkan potensi cuaca ekstrem harian seperti hujan lebat singkat dan banjir bandang,” ujarnya.
Ia menambahkan, sinergi antara teknologi cuaca, kesiapsiagaan pemerintah, dan kewaspadaan masyarakat menjadi kunci menghadapi ketidakpastian iklim yang semakin ekstrem.



