TOJO UNAUNA, rindang.ID | Di tengah riuh perbincangan tentang krisis lingkungan dan keberlanjutan, sebuah gerakan sunyi tumbuh dari Desa Tumbulawa, Kabupaten Tojo Unauna, Sulawesi Tengah. Di desa terpencil di Kepulauan Togean itu, sekelompok ibu rumah tangga meracik perubahan melalui kosmetik alami berbasis sumber daya lokal.
Bagi masyarakat Togean, kelapa bukan sekadar tanaman. Ia adalah denyut ekonomi keluarga. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari komoditas ini, selain dari perikanan dan pariwisata. Bertahun-tahun lamanya, kelapa hanya dijual mentah atau diolah menjadi kopra.
Namun sejak 2021, arah cerita mulai bergeser. Sekelompok perempuan desa bersama Sihkami—perempuan yang pulang setelah merantau di luar negeri—mengolah kelapa menjadi sesuatu yang tak biasa: produk perawatan tubuh alami dengan merek Togean Naturale.
Peluang itu pertama kali terbaca oleh Sihka pada 2018. Saat itu ia baru kembali ke Desa Tumbulawa setelah memutuskan berhenti dari pekerjaannya di luar negeri. Niat awalnya sederhana: memulihkan diri dari pekerjaan yang melelahkan.
Hari-harinya berubah sunyi dan bersahaja. Ia tinggal bersama ibu-ibu desa, ikut memanen kelapa, sekaligus belajar membuat minyak kelapa secara tradisional.
Dari jarak dekat, ia melihat paradoks yang lama luput: alam Togean begitu kaya, tetapi perempuan yang hidup di dalamnya masih bergulat dengan penghasilan minim.
Kelapa melimpah. Nilam tumbuh subur. Tetapi sebagian besar hanya keluar dari pulau sebagai bahan mentah.
“Kita punya semuanya, tapi nilainya kecil,” kenang Sihka.
Kegelisahan itu kemudian menjelma menjadi eksperimen. Tanpa latar belakang kimia maupun kosmetik, Sihka belajar secara otodidak dari YouTube.
Produk pertama yang dikembangkannya adalah sabun. Proses riset dan pengembangan dimulai pada 2021, dilakukan dari dapur sederhana dengan peralatan seadanya.
Ia mengajak ibu-ibu desa ikut belajar. Dari sepuluh perempuan yang mengikuti pelatihan awal, hanya tiga orang yang bertahan paling tekun. Merekalah yang menjadi jantung awal produksi Togean Naturale.
Keterbatasan listrik di pulau disiasati dengan pemasangan panel surya. Siang hari, ruang produksi itu mulai hidup, oleh mesin sederhana, oleh tawa perempuan yang datang belajar.
Dari titik kecil itulah gerakan ini tumbuh. Dan perubahan sosial mulai terasa.
Dampak pertama terlihat di rumah para pekerja. Meski awalnya belum besar, tambahan pendapatan mulai memicu perubahan sosial yang nyata.
“Bahkan ada salah satu ibu yang sebelumnya mengalami kekerasan rumah tangga akhirnya tidak lagi mengalaminya ketika dia mulai menjadi pencari nafkah utama,” tutur Sihka.
Di sudut lain, seorang ibu akhirnya mampu membangun kamar mandi layak yang berdinding dan berlantai tegel. Hal sederhana yang sebelumnya terasa jauh.
Dalam beberapa tahun, lingkar dampak Togean Naturale terus melebar. Kini terdapat sekitar 35 ibu yang terlibat dari berbagai wilayah operasional. 15 orang di Pulau Togean dan Ampana. Yang lainnya tersebar di Bali dan Raja Ampat, Papua.
Pertumbuhan ini cukup pesat dibanding masa awal ketika produksi hanya digerakkan oleh tiga ibu dari Desa Tumbulawa. Para pekerja tersebut kini memiliki penghasilan di atas Upah Minimum Regional (UMR) dan telah bekerja relatif stabil selama hampir lima tahun.
Sihka sendiri memasang visi yang lebih jauh yakni membuka lapangan kerja bagi 1.000 ibu-ibu di daerah terpencil Indonesia, termasuk rencana ekspansi ke Maluku.
Dari Pulau Sunyi ke Pasar Global
Respons pasar terhadap Togean Naturale datang lebih cepat dari yang dibayangkan.
Pada fase awal penjualan daring, pembeli justru banyak datang dari Bali, mayoritas wisatawan mancanegara. Bahkan sejak tahap R&D, sampel yang dikirim ke relasi luar negeri mendapat umpan balik positif dan mendorong perkembangan bisnis ini.
Kini Bali menjadi pasar terbesar. Produk Togean Naturale tersedia di lebih dari 100 toko ritel, mulai dari toko organik, butik, supermarket, hingga toko suvenir di hotel mewah.
Jakarta menyusul sebagai pasar terbesar kedua. Produk mereka telah masuk jaringan supermarket premium seperti Range Market, Hero Supermarket, hingga Grand Lucky SCBD.
Di wilayah Sulawesi termasuk Togean, Bunaken, dan Gorontalo ada sekitar 10 resort menggunakan produk ini sebagai amenitas kamar maupun produk jual ulang.
Melalui situs resminya, pengiriman telah menjangkau Belanda, Jerman, Swedia, dan Singapura. Produk ini juga mulai dipasarkan melalui Amazon di Amerika Serikat dan Kanada.
Lebih dari 30 Produk Berbasis Kelapa
Saat ini Togean Naturale telah mengembangkan lebih dari 30 jenis produk berbahan alami. Sekitar 70 persen bahan dasarnya berasal dari kelapa Sulawesi.
Produk tersebut terbagi dalam lima kategori utama yakni perlengkapan mandi seperti sabun batang, sabun cair, tatakan sabun, hingga sikat badan (body brush).
Ada pula perawatan rambut berupa sampo, kondisioner, dan minyak rambut.
Produk perawatan kulit seperti losion, lulur, body serum, dan body oil juga diproduksi.
Yang terakhir ada produk kesehatan dan relaksasi berupa lilin aromaterapi (candle) dan minyak esensial (essential oil).
Untuk menjaga kualitas sekaligus jejak keberlanjutan, Togean Naturale juga memproduksi sendiri bahan baku utama berupa minyak kelapa dan Virgin Coconut Oil (VCO). Formula ini juga diterapkan pada unit usaha mereka di wilayah lain, termasuk lini Raja 4 Naturale di Papua.
Namun pertumbuhan bisnis bukanlah tujuan akhir Togean Naturale.
Sihka berulang kali menekankan pentingnya mengolah bahan di daerah asal, bukan terus-menerus menjualnya mentah.
Terlalu lama, menurutnya, Indonesia terjebak sebagai pengekspor bahan baku murah dengan nilai tambah minim.
Meski begitu, jalan produk alami diakuinya belum sepenuhnya mulus.
“Edukasi pasar masih berjalan lambat. Kebanggaan terhadap produk lokal belum merata. Riset tanaman tropis Indonesia pun masih terbatas,” kata Sihka.
Di tengah tantangan itu, Togean Naturale memilih bergerak pelan namun konsisten.
Upaya ini telah mendapat dukungan berbagai pihak, termasuk UMKM Award kategori kosmetik dari Bank Indonesia serta promosi pada pameran internasional di Taiwan melalui fasilitasi kementerian terkait.
Hingga kini para perempuan di desa terpencil itu masih konsisten memproduksi produk kebanggaannya tersebut, tumbuh, dan berinovasi berkat ruang yang pelan-pelan jadi ruang sosial.
Mereka membangun dari desa, memperkuat perempuan, menjaga sumber daya alam tetap lestari, dan memastikan produk berkelanjutan dibangun dari masyarakat sendiri.



