SIGI, rindang.ID | Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi hidup berdampingan dengan risiko. Sungai yang membelah desa-desa menjadi nadi kehidupan sekaligus jalur bencana saat tata kelolanya diabaikan. Di tengah ancaman banjir yang terus berulang keterlibatan anak muda tak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Sungai bagi Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi adalah denyut kehidupan sekarang dan untuk masa depan: sumber air untuk pertanian, rumah tangga, sekaligus ancaman yang diam-diam bisa menerjang.
Sungai-sungai di Dolo Selatan tidak pernah lupa mengancam. Sedimentasi akibat longsoran dan gempa 2018 yang menimbulkan kubangan air di pegunungan memperbesar ancaman yang timbul. Belum lagi soal sampah yang jadi masalah klise bagi sungai yang menambah kompleksitas permasalahan sungai Dolo Selatan.
Di titik ini lah ragam perspektif dibutuhkan. Termasuk dari kaum muda yang akan menaggung dampak dari dinamika sungai itu. Dan di Dolo Selatan, anak muda tidak hanya jadi penyumbang tenaga tapi juga meyusun strategi mitigasi. Mereka berasal dari karang taruna desa, kelompok pecinta alam, dan organisasi maupun komunitas informal lainnya.
Anak-anak muda dari komunitas-komunitas itu mulai bersuara dan memandang perlindungan sungai di dekat mereka sebagai tanggung jawab.
Irma Wardaningsih, Anggota Karang Taruna Tovialo, Dolo Selatan menilai sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan cermin kepedulian warganya. Dia mengaku miris dengan masih seringnya sampah muncul di sungai. Bagi Irma, menjaga sungai bukan urusan segelintir orang.
“Kami berharap pemuda, remaja, hingga organisasi desa bisa dilibatkan langsung dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Mulai dari kerja bakti membersihkan aliran air, hingga mengingatkan sesama warga agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat sampah,” kata Irma.
Upaya kecil itu, menurutnya, adalah fondasi dari perubahan besar.
Kegelisahan yang sama juga diutarakan Mutiara, penggerak di KPA Betue, Dolo Selatan. Dia dan kawan-kawan di komunitasnya kerap menyusuri aliran sungai, memungut plastik dan sisa limbah rumah tangga.
Ia membayangkan kolaborasi yang lebih luas antara warga, organisasi pencinta alam, dan pemerintah desa agar perlindungan sungai tak berhenti pada aksi seremonial.
“Kalau alirannya rusak, semuanya ikut rusak,” ujarnya.
Sungai, Pemuda, dan Ingatan Bencana
Sementara itu di Desa Pulu, Rafli, selalu mengingat sungai di desanya adalah tentang banjir yang pernah datang tanpa aba-aba. Menanamkan kesadaran kebencanaan kepada anak muda menurutnya adalah bekal mitigasi masa depan. Sebab dalam jangka panjang anak muda yang akan menanggung dampak dari bencana yang terjadi.
“Wilayah Sigi ini rawan. Kalau pemudanya tidak siap, siapa lagi?” katanya.
Rafli percaya, anak muda bukan sekadar tenaga kerja dalam kerja bakti, tetapi juga aset penting dalam mitigasi bencana. Ia berharap para pemangku kepentingan desa memberi ruang bagi pemuda untuk belajar, berlatih, dan terlibat dalam pengelolaan DAS secara serius. Mulai dari pemetaan risiko, pelatihan tanggap darurat, hingga pengawasan lingkungan.
Baik Irma, Mutiara, maupun Rafli sama-sama yakin, sungai di Dolo Selatan mungkin tak pernah sepenuhnya jinak. Namun, di tangan generasi mudanya, harapan untuk hidup lebih siap berdampingan dengan risiko masih terus mengalir.



