Almarhum Pdt Yombu Wuri. (Foto: Heri/rindang.ID)

Bunga untuk Pdt Yombu Wuri: Pejuang Perdamaian dan Lingkungan Poso yang Kini Hidup dalam Ilmu Flora

POSO, rindang.ID | Sebuah spesies baru tumbuhan dari genus Rhododendron resmi diberi nama Rhododendron Yombuwurii. Nama ini dipilih untuk menghormati almarhum Pendeta Yombu Wuri, sosok yang dikenal luas sebagai pejuang lingkungan, tokoh budaya, sekaligus penjaga perdamaian di tanah Poso.

Penamaan ini bukan sekadar simbolik untuk jenis tanaman berbunga tersebut. Para peneliti menilai, Yombu Wuri adalah representasi suara masyarakat lokal yang selama ini berjuang menjaga alam dan identitas budaya di sekitar Danau Poso.

Semasa hidupnya, Pendeta Yombu Wuri dikenal sebagai figur yang menggabungkan iman, budaya, dan advokasi lingkungan dalam satu napas perjuangan, di mimbar hingga aktivitas lapangannya.

Ia konsisten menentang eksploitasi alam yang mengancam ruang hidup masyarakat. Kawasan Danau Poso menjadi salah satu fokus utamanya, bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi sebagai ruang spiritual dan kultural masyarakat Pamona.

Melalui khotbah di gereja, ia menyampaikan pesan ekologis yang kuat bahwa merusak alam berarti merusak kehidupan itu sendiri.

Yombu Wuri juga menulis dan menciptakan lagu-lagu yang sarat pesan perlawanan terhadap kerusakan lingkungan dan ketidakadilan. Lagu-lagu itu menjadi medium alternatif untuk menyampaikan kritik lembut, tetapi mengena kepada kebijakan yang dianggap mengabaikan hak masyarakat lokal.

Hingga wafatnya pada 20 Mei 2024, ia tetap berdiri di garis depan, menyuarakan keberpihakan pada petani, nelayan, dan warga adat yang terdampak pembangunan.

Penjaga Perdamaian dan Warisan Budaya

Di luar isu lingkungan, bersama Institute Mosintuwu, Yombu Wuri juga memainkan peran penting dalam merawat perdamaian di Poso pascakonflik.

Ia aktif mendorong rekonsiliasi melalui pendekatan budaya Pamona, menghidupkan kembali praktik-praktik kebersamaan yang mempertemukan kembali komunitas yang pernah terbelah. Perdamaian tidak cukup dibangun lewat kesepakatan formal, tetapi harus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

Ia terus mengingatkan bahwa budaya lokal adalah fondasi untuk membangun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Dari Penemuan Tak Sengaja hingga Pengakuan Ilmiah

Rhododendron Yombuwurii, tumbuhan epifit dengan bunga kecil berwarna oranye cerah. (Foto: P.W.K. Hutabarat)

Di sisi lain, kisah Rhododendron Yombuwurii bermula pada Juni 2023 di sekitar Tentena. Tim peneliti yang didukung BRIN menemukan tanaman yang tampak berbeda saat melakukan survei di dekat Air Terjun Saluopa.

Tanaman tersebut tumbuh pada substrat anggrek epifit di area wisata, namun saat itu belum dapat dikoleksi sebagai spesimen.

Penelusuran berlanjut pada Februari 2024 ketika peneliti Kurniawan Bandjolu menemukan kembali tanaman tersebut. Dari informasi warga, diketahui tanaman itu berasal dari Pegunungan Tokorondo, tepatnya di wilayah Petirorano pada ketinggian 1000–1800 MDPL.

Menariknya, meskipun telah berpindah ke ketinggian sekitar 560 MDPL, tanaman ini tetap bertahan dan berbunga. Hal ini memungkinkan tim mengumpulkan spesimen herbarium pada Juli dan November 2024.

“Melalui analisis morfologi dan molekuler, tanaman tersebut akhirnya dikonfirmasi sebagai spesies baru dan dipublikasikan secara internasional pada 2026,” kata Kurniawan Bandjolu, peneliti flora dan fauna asal Poso yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Nama Yombuwurii pun disematkan sebagai penghormatan.

Nama Pendeta Yombu Wuri kini tidak hanya hidup dalam ingatan masyarakat Poso, tetapi juga dalam literatur botani dunia, sebagai simbol keberanian, keteguhan, dan cinta terhadap alam serta budaya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top