Pengukur ketinggian air Danau Poso yang menunjukkan penurunan debit pada tahun 2023. (Foto:Heri/rindang.ID)

Tentang El Nino Godzilla dan Potensinya di Sulawesi Tengah

PALU, rindang.ID | Istilah El Nino “Godzilla” kembali menjadi perhatian dalam pembahasan perubahan iklim dan musim di Indonesia. Lalu apakah juga akan melanda Sulawesi Tengah?

Meski bukan istilah ilmiah resmi, sebutan El Nino “Godzilla” digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas terhadap berbagai wilayah di dunia, termasuk Indonesia.

El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Kondisi ini menyebabkan perubahan pola cuaca global, di mana Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan dan kekeringan, sementara wilayah seperti Amerika Selatan justru menghadapi hujan ekstrem.

Istilah “Godzilla” disematkan karena intensitas fenomena yang jauh di atas normal, berdampak luas, dan kerap memicu bencana seperti kebakaran hutan, krisis air, hingga gangguan produksi pangan.

Tidak Ekstrem, Tapi Tetap Perlu Diwaspadai

Untuk tahun 2026, berdasarkan dokumen fenomena El Nino yang diprediksi terjadi di Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah, tidak masuk kategori ekstrem. Dokumen Prediksi Musim Kemarau 2026 Sulawesi Tengah yang disusun Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri menyebut, sejumlah model iklim menunjukkan adanya transisi dari kondisi netral menuju El Nino lemah hingga moderat mulai pertengahan tahun.

Meski tidak sekuat “Godzilla”, dampaknya tetap signifikan.

“Sekitar 52 persen wilayah Zona Musim (ZOM) di Sulawesi Tengah diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal, yang berarti kondisi akan lebih kering dibanding biasanya,” kata Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi.

Selain itu, awal musim kemarau diprediksi datang lebih cepat di sekitar 69 persen wilayah, dengan periode kemarau dimulai secara umum pada Juni hingga Agustus 2026.

Puncak musim kemarau di Sulawesi Tengah diperkirakan terjadi pada September 2026, mencakup sekitar 72 persen wilayah. Tidak hanya itu, durasi kemarau juga diprediksi lebih panjang dari kondisi normal, terutama di wilayah kepulauan seperti Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.

Sementara itu distribusi awal musim kemarau menunjukkan variasi antarwilayah.

Pada Juni 2026, Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, sebagian Sigi, Buol, dan Tojo Una-Una diprediksi akan mengalaminya.

Juli 2026 El Nino akan dirasakan di Toli-Toli, sebagian besar wilayah pesisir dan timur Sulteng. Agustus 2026: Tojo Una-Una, Banggai Kepulauan, Morowali Utara.

Sementara itu, wilayah seperti Kota Palu dan sekitarnya termasuk dalam kategori Tipe 1 Musim, yang memiliki karakteristik pola hujan berbeda dibanding wilayah lain.

Ancaman Kekeringan dan Karhutla Meningkat

Kondisi musim yang lebih kering berpotensi meningkatkan sejumlah risiko, seperti kekurangan air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penurunan hasil pertanian, serta gangguan kesehatan akibat panas dan kualitas udara.

Risiko karhutla menjadi salah satu ancaman paling serius yang perlu diantisipasi sejak dini.

Mitigasi Lintas Sektor Jadi Kunci

Menghadapi kondisi tersebut, berbagai langkah mitigasi direkomendasikan secara lintas sektor.

“Di sektor kehutanan dan kebencanaan, peningkatan patroli terpadu serta sosialisasi larangan pembakaran lahan menjadi prioritas. Pemanfaatan sistem peringatan dini berbasis pemantauan titik panas juga penting untuk menekan risiko kebakaran,” ujar Asep.

Sementara di sektor pertanian, petani didorong untuk menyesuaikan kalender tanam, menggunakan varietas tahan kekeringan, serta mengoptimalkan penggunaan air melalui sistem irigasi hemat.

Di sektor sumber daya air dan energi, pengelolaan waduk secara optimal serta efisiensi penggunaan energi menjadi langkah penting untuk menjaga pasokan tetap stabil.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat terkait risiko dehidrasi, paparan panas, dan kualitas udara juga perlu diperkuat, terutama bagi kelompok rentan.

Perlu Kesiapsiagaan Bersama

Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih panjang, seperti Banggai Kepulauan dan Banggai Laut, diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi krisis air. Sementara daerah dengan potensi hujan yang mundur perlu mengantisipasi kekeringan yang lebih berkepanjangan.

Koordinasi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan masyarakat dinilai menjadi kunci untuk meminimalkan dampak El Nino, meskipun dalam kategori lemah hingga moderat.

“Mengingat prediksi ini merupakan peringatan dini, langkah antisipasi yang bisa dilakukan yang pertama adalah manajemen air. Mulailah menghemat penggunaan air bersih dan memastikan penampungan terisi penuh sebelum puncak kemarau,” Asep mengingatkan.

Asep juga mengingatkan, meski tidak selalu hadir dalam skala ekstrem seperti “Godzilla”, perubahan iklim tetap membawa konsekuensi nyata yang perlu dihadapi dengan kesiapan dan strategi yang matang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top