SIGI, rindang.ID | Jalan menuju Desa Kayumpia, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi tidak selalu mudah. Jarak yang jauh dan akses yang terbatas membuat sebagian kebutuhan dasar, termasuk pendidikan, terasa sunyi. Tapi di situlah Ranah Juang Lestari (Ranjuri) bersama Himapro Unisa Palu memilih untuk hadir.
Melalui program Desa Binaan, dua komunitas ini membawa tema besar “Menembus Sunyi Pendidikan di Pelosok Negeri.” Dua kelompok anak muda itu berupaya membuka ruang belajar dan penguatan kapasitas masyarakat.
“Ketika akses terbatas dan jarak memisahkan, kami memilih untuk hadir,” ujar Ahmad, Ketua Panitia kegiatan.
Program ini bertumpu pada tiga fokus utama: pendidikan, lingkungan, dan sosial. Pada sektor pendidikan, Ranjuri dan Himapro mendorong terwujudnya sistem pembelajaran yang inklusif, merata, dan berkualitas tanpa memandang latar belakang ekonomi, gender, maupun letak geografis. Pendidikan, menurut mereka, tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter, kreativitas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial anak-anak desa.
Di bidang lingkungan, program ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pembangunan berkelanjutan. Pengelolaan hutan dan sumber daya alam diharapkan berjalan bijak dan adil, sekaligus melibatkan generasi muda secara aktif dalam gerakan pelestarian alam.
Sementara pada aspek sosial, inisiatif ini menargetkan penguatan masyarakat yang adil, setara, damai, dan saling menghargai. Ranjuri menekankan pentingnya memperkuat partisipasi warga terutama pemuda dan kelompok rentan serta mendorong penyelesaian konflik melalui dialog dan pendekatan damai. Nilai solidaritas dan gotong royong juga terus dirawat sebagai fondasi budaya lokal.
Kehadiran program ini mendapat sambutan positif dari pihak sekolah. Kepala SDN Negeri Kayumpia, Pinus S.Pd, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya sekolah mereka sebagai lokasi percontohan.
“Kami berterima kasih kepada Komunitas Ranjuri dan Himapro karena sudah memilih Desa Kayumpia, khususnya SDN Negeri Kayumpia, sebagai pilot project. Kehadiran adik-adik sangat membantu kami di sini,” ujar Pinus.
Di sela kegiatan bersama guru dan siswa, tim dari divisi lingkungan dan sosial juga menyambangi kediaman ketua adat Desa Kayumpia. Kunjungan ini dilakukan untuk menggali praktik budaya lokal dalam menjaga alam sekaligus memperkuat tradisi gotong royong di tengah masyarakat.
Ranjuri dan Himapro menyadari bahwa peningkatan kapasitas masyarakat di pedalaman bukan pekerjaan singkat. Ini adalah proses panjang agar sunyi di pelosok tidak lagi berarti tertinggal.



