PALU, RINDANG | Sulawesi Tengah memiliki Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) yang menjadi fokus perlindungan dari pengrusakan.

KKP3K di Sulawesi Tengah yang ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan tahun 2019 itu meliputi empat kawasan, yaitu Donggala, Buol, Tolitoli (Doboto), Tomini yang meliputi Parigi, Poso, Tojo Unauna, Banggai meliputi Banggai Laut dan Banggai Kepulauan, serta KKP3K Morowali yang meliputi Kabupaten Morowali dan Morowali Utara.

Total luasan wilayah konservasi dari empat kawasan itu mencapai 1,3 juta hektare (ha). Di antaranya ke empatnya, KKP3K Banggai merupakan yang terluas dengan 800 ribu ha.

Luasan itu menjadikan Sulteng sebagai salah satu provinsi dengan KKP3K terluas di Indonesia.

Namun wilayah konservasi yang luas itu diakui juga memiliki tantangan yang besar dalam upaya pengawasan, perlindungan, dan rehalibitasinya.

Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, Muh. Edward mengungkapkan salah satu tantangan yang dihadapi pihaknya yakni masih minimnya dukungan sarana bagi petugas yang membuat pengawasan dan upaya konservasi dinilainya belum maksimal.

Edward mencotohkan di Banggai misalnya penangkapan ikan dengan cara pemboman masih saja terjadi yang mengakibatkan kerusakan karang.

“Sejak ditetapkan tahun 2019 sampai sekarang baru ada tiga kantor UPT untuk mengawasi kawasan-kawasan itu dengan sarana terbatas. Morowali bahkan belum punya kantor,” kata Edward.

Walau begitu kerja-kerja konservasi di wilayah-wilayah tersebut saban tahun kata Edward terus dilakukan pihaknya. Seperti perluasan kawasan mangrove dan konservasi karang.

Selain itu pengawasan kawasan laut dari pengrusakan seperti bon ikan juga dilakukan dengan kolaborasi bersama kepolisian dan pihak terkait lain.

Sulawesi Tengah berdasarkan kajian Bappenas menjadi salah satu di antara 10 provinsi dengan potensi ancaman kerugian ekonomi terbesar di Indonesia akibat perubahan iklim. Sektor kelautan, perikanan, dan air menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan nilai lebih dari Rp40 triliun.

Ancaman perubahan iklim itu sendiri diamini Edward dengan tanda-tandanya yang tampak di kawasan laut.

“Sejak tahun 2016 kami menemukan adanya pemutihan karang di wilayah Parigi Moutong dan Morowali. Rata-rata tangkapan nelayan juga berkurang,” Edward memungkasi.