PALU, RINDANG | Rekor suhu terpanas di seluruh dunia terjadi sepanjang Juni 2024. Demikian Copernicus Climate Change Service (C3S)  melaporkan dikutip dari Channel News Asia, Rabu (10/7/2024).

“Setiap bulan sejak Juni 2023 panas global dalam 13 bulan berturut-turut melampaui rekor suhu tertinggi dan belum  pernah terjadi sebelumnya,” ujar C3S di laman tersebut.

Sejumlah pakar atau pemantau iklim Uni Eropa menilai, ini tidak dapat dihindari selagi kebiasaan manusia untuk terus dan terus menambah gas-gas yang memerangkap panas ke atmosfer.

“Ini lebih sekedar keanehan statistik dan ini menyoroti perubahan iklim besar dan berkelanjutan. Bahkan jika kejadian ekstrem ini berakhir suata saat nanti, kita pasti akan melihat rekor-rekor baru dipecahkan seiring dengan terus memanasnya iklim,” kata direktur layanan, Carlo Buantempo.

Sementara itu, para pejabat di Miami-Dade County, Florida, bingung ketika hendak menghitung jumlah orang yang meninggal karena cuaca panas ekstrem. Pejabat itu pun meminta bantuan Christopher Ueijo, seorang ahli geografi di Florida State University.

Ueijo dalam hitungannya menggunakan data suhu dan catatan kematian untuk menentukan bahwa antara tahun 2015 dan 2019, panas terik telah membunuh rata-rata 34 orang per tahun di wilayah tersebut.

Perkiraan ini lebih dari 10 kali lipat lebih tinggi dari pada angka resmi sebelumnya yang menyebut selama periode yang sama, Miami-Dade hanya mengklasifikasikan dua kematian terkait panas tersebut.

Setahun kemudian, Ueijo melakukan analisis kedua terhadap data yang sama. Kali ini, ia ikut memasukkan peningkatan suhu sebelum puncak gelombang panas untuk menangkap lebih banyak dampak kesehatan awal dan kumulatif. Temuan terbaru yang diterbitkan pada Mei, sangat berbeda, yakni 600 kematian akibat panas per tahun.

“Keduanya adalah studi yang ditinjau oleh rekan sejawat,” kata Jane Gilbert, kepala petugas penanggulangan panas untuk Miami-Dade County yang menugaskan kedua analis tersebut. (bmz)