SIGI, RINDANG | Meskipun populasi Primata terkecil di dunia, Tarsius cukup banyak di Sulawesi Tengah (Sulteng), namun sebagian besar masyarakat belum mengetahui secara persis hewan endemik Sulawesi ini.

Habitat Tarsius umumnya dapat ditemukan di hutan-hutan dataran rendah yang berbatasan langsung dengan perkebunan warga, bahkan tak sedikit ditemukan hidup dan berkembang biak di area perkebunan warga, seperti kebun kakao, karena hutan tempat tinggalnya telah rusak akibat perambahan.

Di Sulteng penyebaran Tarsius hampir di semua wilayah, mulai dari Kabupaten Sigi, Donggala, Parmout, Poso, Touna, dan Banggai.
Namun untuk Tarsius jenis Pumilus, hanya ditemukan hidup diatas ketinggian 1.000 Mdpl (meter diatas permukaan laut) dengan ciri tubuh dewasa lebih kerdil dibanding Tarsius Dentatus dan jenis lainnya.

Dari penuturan sejumlah petani atau pekebun kakao (cokelat) yang ditemui rindang.id mereka masih menganggap keberadaan hewan nokturnal (beraktivitas pada malam hari) itu sebagai hewan pengganggu atau hama bagi perkebunan warga.

Seperti diungkapkan Risman seorang petani di Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Awalnya ketika ditanya, “Apa pernah melihat binatang Tarsius?,” Risman menjawab belum pernah dan sebutan tersebut asing ditelinga Risman. Namun ketika diperlihatkan foto melalui Hp, iapun sontak berkata, “Ah so ini binatang yang sering makan buah coklat, kalau orang sini bilang Toga,”. Ya, di beberapa wilayah di Sulteng, Tarsius memiliki sebutan atau nama lokal yang beragam, seperti Tangkasi (Poso) dan Tangkahi (Kulawi).

Tinus warga lainnya di Dusun Panjolati Kecamatan Sindue Tambusabora, Kabupaten Donggala, menuturkan, Tarsius adalah binatang sejenis tupai yang kerap memakan atau melubangi buah coklat, meskipun dia mengakui belum pernah melihat langsung Tarsius memakan buah kakao, namun karena dia sering melihat beberapa ekor Tarsius sering berkeliaran di area kebunnya, maka iapun menyimpulkan bahwa binatang tersebut merupakan hewan yang merusak buah kakao, terkadang dia pun memburu binatang tersebut.

“Biasanya saya lihat pagi-pagi sekali dan bunyi suaranya keras, saya pikir selama ini dia makan buah cokelat,” ucapnya.

Perlu diketahui, kelompok kecil Tarsius (jantan dan betina dewasa serta anak), biasanya akan keluar dari tempat tidurnya saat hari mulai gelap/magrib untuk berburu makanan. Tarsius merupakan hewan insektivora atau pemakan serangga, serta reptil berukuran kecil.

Dalam semalam seekor Tarsius mampu memakan belasan hingga puluhan belalang dan sejenisnya.

Tarsius akan kembali ke sarangnya pada pagi hari sekira pukul 06.00 Wita. Ketika mendekati sarang atau tempat tidurnya, biasanya sang jantan akan mengeluarkan bunyi melengking yang disusul bunyi betina secara bersahut-sahutan.

Ciri-ciri primata ini, memiliki ukuran tubuh 10 sampai 15 cm, panjang ekor 20 sampai 25 cm, bermata besar, warna bulu cokelat kemerahan dan merupakan hewan arboreal (hidup di pohon). Keunikan lainnya Tarsius mampu melompat sejauh 3 sampai 5 meter dari satu pohon ke pohon yang lain serta dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat.

Melihat perilakunya, satwa endemik Sulawesi itu sebenarnya punya peran menjaga keseimbangan ekosistem terutama pengendalian hama serangga, dan bukanlah musuh seperti anggapan sejumlah petani yang belum mengetahui perilaku Tarsius. Primata mungil ini sebenarnya adalah sahabat para petani, olehnya harus selalu dijaga kelestarianya agar tidak punah. THA