RINDANG, SIGI | Sebagai desa adat yang terikat dengan hutan dan alam, pengetahuan kearifan lokal tentang menjaga hutan di Desa Toro terus diwariskan ke anak-anak desa di Kabupaten Sigi tersebut.

Siang itu Kamis (16/5/2024) belasan anak usia sekolah dasar berkumpul di ujung dusun 1, Desa Ngata Toro, Kecamatan Kulawi, Kabapaten Sigi.

Setelah beberapa kawan yang ditunggu tiba, anak-anak itu berlarian, kejar-kejaran, tak sabar ingin sampai tujuan; Sekolah Alam Ngata Toro.

Jarak antara ujung Dusun 1 dengan sekolah alternatif yang berada di tengah hutan itu sekitar 1,5 kilometer, melewati perkebunan dan dua jembatan darurat yang dibangun mandiri oleh warga.

Anak-anak Sekolah Alam Ngata Toro saat belajar pembagian kawasan hutan adat. (Foto: Heri/rindang.id)

Sekolah yang dibangun mandiri oleh warga tahun 2015 itu menjadi simbol girah anak-anak Desa Toro terhadap perlindungan, kelestarian, dan masa depan hutan di desa mereka yang dijaga oleh aturan-aturan adat.

“Tiga kali dalam sepekan kami ke sini belajar adat menjaga hutan, air, dan aturan memakai sumber daya alam,” kata Santi (12 th).

Hari itu Santi dan kawan-kawannya belajar tentang penamaan kawasan hutan dan pemanfaatannya untuk masyarakat adat desa mereka.

Torompupu, wana ngtiti, pangale, pahawa pongko, oma ntua, oman ngura, oma nete, oma ngkuku, balingkea, pampa, dan pongataa jadi istilah adat tentang pembagian kawasan hutan yang mereka pelajari.

Istilah-istilah itu meliputi kawasan hutan yang tidak boleh diolah masyarakat, hutan primer habitat hewan dan tumbuhan langka serta tangkapan air, kawasan perkebunan, hingga kawasan perkebunan terbatas yang diatur ketat oleh adat.

Anak-anak Sekolah Alam Ngata Toro saat berbaris menyanyikan lagu bertema menjaga hutan. (Foto: Heri/rindang.id)

Said Tolao, pendiri Sekolah Alam Ngata Toro bilang dari sekolah itulah kelestarian dan masa depan hutan di Ngata (desa) Toro tetap terjaga.

“Masa depan Ngata Toro dan warganya bergantung dari kelestarian alam. Karenanya rasa memiliki dan menjaga harus dibangun sejak dini,” kata Said.

Said mengaku dirinyalah yang kerap memberi pembelajaran kepada anak-anak. Pengalamannya selama lebih dari 20 tahun sebagai mitra Balai TN Lore Lindu sebagai penjaga hutan di Toro banyak dibagikan ke anak-anak.

Tahun 2018 lalu Sekolah Alam Ngata Toro mendapat pengakuan dari KLHK atas kontribusinya mendidik anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan.

Kepedulian anak-anak terhadap hutan itupun tercermin dari lagu yang selalu mereka nyanyikan kala berkumpul di Sekolah Alam Ngata Toro.

“Kalau ku besar aku butuh hutan. Jangan tebang, jangan rusak.. jaga pohon, hutan ku hijau jernih airnya. Lore Lindu aku cinta Lore Lindu, Lore Lindu aku bangga lestarikanmu..,” begitu penggalan lirik nyanyian anak Sekolah Alam Ngata Toro.