JAKARTA, RINDANG | Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni, kali ini mengangkat tema #Restorasi Generasi. Di Indonesia, Save the Children kembali mengingatkan efek domino dari krisis iklim sangat berpengaruh pada hak-hak anak,  terutama pada hak kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindungan.

Sayangnya, krisis iklim dan hak anak sering dianggap tidak ada korelasinya, sehingga topik ini tidak muncul ke permukaan. Pembicaraan tentang perubahan iklim masih dominan mengenai perubahan fisik lingkungan.

Menurut Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau 2024 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Juli dan Agustus 2024. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan pada periode Juli-Agustus-September 2024, El Nino Southern Oscilation (ENSO) Netral diprediksi akan beralih menuju fase La Nina lemah yang akan bertahan hingga akhir tahun 2024. Fenomena La Nina lemah ini diprediksi tidak berdampak pada musim kemarau yang akan segera hadir.

“Kekeringan yang berlangsung terus-menerus akan menempatkan anak pada posisi paling rentan, yang terpaksa mengorbankan waktu belajar dan berisiko terhadap kesehatan mereka, seperti, malaria, demam berdarah, infeksi pernafasan, dan penyakit kulit. Ini tidak bisa di abaikan kita harus segera bertindak untuk memastikan hak-hak mereka tetap terpenuhi walaupun dalam situasi krisis.” Tata Sudrajat – Chief (Interim) Advocacy, Campaign, Communication and Media Save the Children Indonesia

Kajian cepat Save the Children Indonesia pada November 2023, memaparkan bahwa kekeringan berdampak pada kesehatan, gangguan pada pendidikan anak serta mengancam kehidupan sehari-hari masyarakat. Penelitian yang berfokus pada 3 kabupaten: Lombok Barat, Sumba Timur dan Kupang ini berfokus pada dampak dan langkah kesiapsiagaan yang harus segera dilakukan dalam menghadapi kekeringan di Indonesia.

Dampak kekeringan pada pendidikan anak-anak dapat terlihat dari bagaimana anak-anak sulit berkonsentrasi saat pelajaran berlangsung, misalnya di Lombok Barat, anak-anak harus bangun pada jam tiga pagi untuk mengantri mengambil air sebelum pergi kesekolah. Di Sumba timur, anak-anak harus menempuh perjalanan 1,5–2 km ke mata air setiap jam 5 pagi.

Pada isu kesehatan, malaria dan demam berdarah dapat menjadi problema akibat kelangkaan air yang menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangbiakan nyamuk pembawa penyakit. Kurangnya sumber air yang memadai memaksa masyarakat untuk menyimpan air, sehingga secara tidak sengaja menciptakan tempat berkembang biak bagi nyamuk. Tidak hanya malaria dan demam berdarah, risiko penyakit pernafasan, dan penyakit kulit seperti infeksi bakteri dan jamur pada kulit, termasuk namun tidak terbatas pada impetigo, kudis, dan dermatitis jamur bisa terjadi akibat ketidakmampuan untuk menjaga praktik kebersihan.

Selain itu, gagal panen akibat kekeringan  mengakibatkan nutrisi anak dan ibu hamil tidak terpenuhi akibat penurunan ketersediaan makanan yang bergizi. Tidak hanya itu gagal panen juga berefek pada ekonomi keluarga. Di Sumba Timur misalnya, untuk mengatasi tantangan ini, keluarga yang kesulitan keuangan terpaksa menjual aset berharga, termasuk kambing, unggas, dan bahan atap, untuk mendapatkan dana guna membeli air bersih.

Save the Children Indonesia menyerukan kepada pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor swasta untuk segera berkolaborasi dalam memperkuat langkah-langkah mitigasi dan adapatasi terhadap krisis iklim. Tindakan kolektif yang cepat dan terarah sangat diperlukan untuk mengkaji lebih jauh dampak perubahan iklum terhadap kesejahteraan keluarga dan anak, mentransfer istilah-istilah iklim ke dalam bahasa yang lebih mudah difahami masyarakat, orangtua, dan anak; menyampaikan pesan-pesan mitigasi dan adaptasi dalam bahasa masyarakat; memastikan akses yang adil terhadap sumber daya yang penting seperti air bersih, serta menyediakan dukungan yang diperlukan bagi keluarga dan anak-anak yang paling terdampak. (bmz/*)