RINDANG, POSO | Keanekaragaman hayati Danau Poso menjadi daya tarik bagi pelajar di Poso.

Tak kurang dari tujuh sekolah menengah pertama dan atas memadati museum akuatik Danau Poso di Kelurahan Pamona, Kecamatan Pamona Puselemba.

Selama dua hari, 7 sampai 8 Maret para siswa-siswi dikenalkan dengan aneka biota akuatik endemik Danau Poso, seperti aneka jenis udang, ikan-ikan kecil, sidat, dan keong.

Peneliti dari Institut Mosintuwu, Kurniawan Bandjolu membawakan materi ‘Keanekaragaman Hayati Ekosistem Danau Poso dan Sekitarnya’. (Foto: Ray Rare’a)

Ketertarikan para pelajar dengan keunikan penghuni danau terbesar ke-3 di Indonesia itu tampak dari berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan kepada para pemateri, seperti mengapa sidat harus menempuh perjalanan jauh untuk berkembang biak, apakah biota-biota itu bisa dikonsumsi, dan mengapa lebih banyak peneliti luar negeri yang meneliti kekayaan Danau Poso itu.

Selain pameran para pelajar itu juga mendapat materi tentang keanekaragaman hayati oleh Diky Dwiyanto dengan materi ‘Pengenalan Jenis-Jenis Udang Caridina endemik Danau Poso : Ancaman dan Upaya Konservasinya’ disusul materi ‘Keanekaragaman Hayati Ekosistem Danau Poso dan Sekitarnya” yang dibawakan Kurniawan Bandjolu, peneliti dari Institut Mosintuwu.

Diky Dwiyanto (CELEBICA) saat membawakan materi ‘Pengenalan Udang Caridina Endemik Danau Poso, Ancaman dan Upaya Konservasinya’ via Zoom. (Arsip: Diky Dwiyanto)

Di kesempatan yang sama Lian Gogali, Direktur Institut Mosintuwu membawakan materi ‘Bahaya Penggunaan Plastik Sekali Pakai dan Kontaminasi Mikroplastik pada Makhluk Hidup’. Lian mengajak pelajar dan guru untuk ikut berpartisipasi dalam upaya pelestarian lingkungan dengan menekan angka penggunaan plastik sekali pakai dengan cara-cara sederhana seperti membawa botol minuman isi ulang dan kotak makan setiap kali keluar rumah.

Di akhir acara Lian membagikan botol minum, kaos, dan sedotan stainless bagi peserta yang aktif bertanya dalam seminar.

Direktur Institut Mosintuwu, Lian Gogali membagikan botol minum kepada peserta seminar. (Dok: Kurniawan Bandjolu).

Acara bertema lingkungan itu pun berhasil memantik keinginan para guru membuat kegiatan serupa.

“Seminar ini sangat baik karena memperkenalkan keanekaragaman hayati endemik yang ada. Sebagai guru pelajaran geografi kami merasa materi yang ada sangat erat kaitannya dengan pelajaran geografi juga biologi di SMA,” kata Roslin Tandoapu, Ketua Panitia Gelar Karya SMA Negeri 1 Pamona Utara.

Kegiatan itu sendiri dilaksanakan oleh Institut Mosintuwu dan SMA Negeri 1 Pamona Utara bekerjasama dengan Yayasan Aksi Konservasi CELEBICA dan Sulawesi Keepers. Tujuannya untuk memperkenalkan keanekaragaman hayati endemik yang ada di Danau Poso dan sekitarnya juga membangun rasa yang kuat untuk melestarikan keanekaragaman hayati serta menyadartahukan bahaya penggunaan plastik sekali pakai bagi bumi dan makhluk hidup.