DONGGALA, RINDANG | Puluhan warga yang di dalamnya mencakup tokoh masyarakat, remaja masjid, pelajar dari tingkat SD hingga SMA, dan mahasiswa magang melakukan penanaman bibit pohon bakau di pesisir pantai Pulau Pangalasiang, Kecamatan Sojol, Donggala, Slawesi Tengah, Sabtu (8/6/2024).

Penanaman mangrove itu tidak semata karena bertepatan dengan peringatan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day yang diperingati setiap 8 Juni, lebih dari itu, aksi itu merupakan salah satu bentuk kepedulian dan kesadaran warga setempat akan ancaman abrasi dan degradasi lingkungan di pulau yang memiliki luasan sekitar 14 hektare itu.

Direktur Yayasan Rumah Bahari Gemilang (Rubalang) Moh. Tofan Saputra memberikan pengarahan kepada warga sebelum penanaman mangrove di pesisir pantai Pulau Pangalasiang, Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (8/6/2024). (rindang.ID/bmz)

Sedikitnya 500 propagul (bibit pohon bakau) ditancapkan ke area pesisir oleh kelompok warga di hari itu. Tapi sebelumnya, mereka juga bahkan sudah menanam lebih dari 2.400 propagul tidak jauh dari lokasi penanaman hari ini.

Yayasan Rumah Bahari Gemilang (Rubalang) dan Arkom Palu menjadi inisiator dari aksi itu. Mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari Kemendikbudristek melalui PT Amati Karya Indonesia yang juga melakukan pendidikan magang di pulau itu mengklopkan aksi yang baru pertama kali dilaksanakan di pulau berpenghuni lebih dari 300 Kepala Keluarga atau sekitar 1000 jiwa itu.

Warga setempat sangat antusias melakukan penanaman itu. Bagaimana tidak, baru kali ini mereka mengetahui dan menyadari jika mangrove begitu berguna untuk melindungi pulau tempat mereka menambatkan kehidupannya itu.

Direktur Rubalang, Moh Tofan Saputra bersama tokoh perempuan Pangalasiang, Wadi menanam bibit bakau di pantai Pulau Pangalasiang, DOnggala, Sabtu */6/2024). (rindangID/bmz)

“Sebelumnya ada nonton bareng tentang mangrove yang digelar Rubalang di tempat ini. Dari situ baru kami tahu kalau ternyata mangrove itu tidak boleh ditebang untuk dijadikan bahan bakar, karena fungsinya untuk melindungi pantai dan pulau,” aku Wadi, seorang tokoh perempuan di pulau itu.

Menyadari manfaat mangrove itu dan sebagai tokoh masyarakat setempat, Wadi menjadi bagian dari kampanye pelestarian lingkungan di wilayah itu. Tak hanya mengajak orang-orang tua untuk terlibat di dalamnya, remaja masjid dimana dirinya menjadi Pembina juga di ajak serta, pun termasuk para pelajar SD dan SMP yang ada di pulau tersebut.

“Ya, ini baru pertama kali, karena baru kami tahu kalau mangrove ada gunanya,” aku Herlita, ketua Remaja Masjid (Risma) Khoiru Ummah Pulau Pangalasiang.

Warga bersama mahasiswa magang, pengurus Rubalang dan Arkom Palu foto bersama usai aksi bersih-bersih pantai di pesisir pantai Pulau Pangalasiang, Sojol, Donggala, Minggu (9/6/2024). (rindangID/bmz)

Bagi Herlita, menanam mangrove oleh kalangan anggota Risma bukanlah hal yang tabu. Herlita menegaskan, Risma dalam kegiatannya tidak harus melulu tentang kegiatan keagamaan. Menanam mangrove adalah bagian tak terpisahkan dari Risma itu sendiri. Ia bahkan menegaskan, kecintaan terhadap lingkungan adalah bagian yang seharusnya ada pada setiap diri para anggota Risma.

Direktur Yayasan Rubalang, Moh Tofan Saputra menyebutkan, inisiasi penanaman mangrove di Pulau Pangalasiang itu dilakukan setelah sebelumnya dilaksanakan assessment. Wilayah Pulau Pangalasiang nyaris tak tersentuh dengan aksi-aksi penyadaran masyarakat akan lingkungan. Padahal menurutnya, potensi besar tersimpan di wilayah itu.

“Kebetulan ada program magang MBKM dari Kemendikbudristek melalui PT Amati Karya Indonesia, maka kami bersama Arkom Palu menggagas kegiatan ini yang tentu saja setelah menggalang dukungan masyarakat setempat,” jelas Tofan.

Sejumlah warga bersama mahasiswa memungut sampah di pesisir pantai Pulau Pangalasiang, Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (9/6/2024). (rindangID/bmz)

Pulau Pangalasiang menurut Tofan memiliki potensi besar untuk dikembangkan baik sebagai kawasan ekonomi maupun wisata pesisir yang ramah terhadap lingkungan dan berbasis  partisipasi masyarakat. Masyarakat setempat dinilai cukup ‘wellcome’ terhadap perubahan.

“Ada 10 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang melakukan magang di tempat ini dan fokusnya pada pendidikan konservasi. Kami bersyukur karena pola pemagangan dengan sistem bapak angkat cukup diterima baik,” ujarnya.

Program magang itu berlangsung selama empat bulan dan sejak diluncurkannya tidak ditemukan kendala yang cukup berarti. Sebaliknya, harmonisasi antara mahasiswa dengan pola bapak angkat itu memberikan hasil yang cukup memuaskan.

Sejumlah warga bersama mahasiswa memungut sampah di pesisir pantai Pulau Pangalasiang, Donggala, Sulawesi Tengah, Minggu (9/6/2024). (rindangID/bmz)

“Saya melihat sendiri bagaimana harmonisasi dan transfer wawasan itu terjadi antara mahasiswa magang dengan bapak angkat dan lingkungan sekitarnya, tak terkecuali pada kegiatan penanaman mangrove ini,” aku Tofan.

Tofan bahkan mengaku sedang membuat grand design untuk menjadikan Pulau Pangalasiang sebagai Pilot Project lingkungan pesisir dalam program kerjanya ke depan.

Sementara itu, masih dalam rangkaian peringatan Hari Laut Sedunia, segenap komponen masyarakat setempat bersama TNI turun langsung melaksanakan kegiatan bersih-bersih Pantai di sepanjang pulau tersebut.

Kegiatan bersih-bersih yang juga baru pertama kali digelar itu sekaligus mendesak kesadaran warga kembali tentang pentingnya kebersihan. Selama ini, jamak terjadi membuang sampah ke laut.

“Ini juga menjadi bahan masukan kepada pihak terkait untuk membantu menyediakan fasilitas pembuangan sampah agar masyarakat yang mulai sadar tentang lingkungan tidak lagi membuang sampahnya ke laut,” imbuh Tofan. (bmz)