RINDANG, POSO | Sebagai danau terbesar ke-4 di Indonesia dengan keanekaragaman hayati dan budaya yang tinggi, Danau Poso tengah diusulkan menjadi Situs Geopark Warisan Dunia.

Nama Danau Toba di Sumatera boleh jadi lebih sohor ketimbang Danau Poso di Sulawesi Tengah. Meski kalah pamor Danau Poso yang masuk 5 besar daftar danau terbesar di Indonesia itu tak kalah kaya akan keanekaragaman hayati bahkan endemik serta sejarah dan budaya.

Lantara itu sejak tahun 2019 sekelompok peneliti yang diinisiasi Institut Mosintuwu berkolaborasi dengan pemerintah daerah mengumpulkan data keragaman hayati dan budaya di Danau Poso sebagai bagian proses pengusulan menjadi Geopark Warisan Dunia.

“Danau Poso punya endemisitas biota yang cukup tinggi seperti Udang Atydae, Gastropoda, Bivalvia, Kepiting, dan sidat atau sogili dalam bahasa setempat,” Iksam Djorimi, Arkeolog dan Budayawan Sulawesi Tengah yang ikut dalam pengumpulam data tersebut.

Kata Iksam tidak kurang dari 20 biota endemik ditemukan di danau tersebut.

Salah satu kuburan prasejarah di Gua Tangkaboba, sebelah barat Sungai Danau Poso. (Foto: Ray Rarea).

Selain biota endemik di sekitar Danau Poso juga ditemukan tinggalan arkeologi dan sejarah masa lalu yang bernilai penting bagi ilmu kebudayaan. Tinggalan itu yakni kuburan-kuburan prasejarah yang terdapat di ceruk sekitar danau maupun sekitar sungai dari aliran danau tersebut.

Sejauh ini telah ditemukan 19 situs area kuburan prasejarah dengan ciri terdapat konsentrasi tulang belulang serta artefak peti-peti kuno yang terukir motif hewan.

Budaya penguburan prasejarah itu mirip temuan di Toraja dan Nias.

Temuan itu bernilai penting kata Iksam karena menjadi petunjuk untuk mempelajari sebaran kebudayaan awal di Indonesia.

Penyusunan dokumen teknis sendiri sudah selesai dilakukan dan telah diserahkan kepada Kementerian ESDM sebagai syarat penetapan Warisan Geologi Nasional yang merupakan tahapan sebelum menjadi Situs Geopark Warisan Dunia.

Danau Poso tampak dari Dermaga di Institut Mosintuwu. (Foto: Heri/rindang.id)

“Sampai tahun 2024 ini masih menunggu revisi dokumen warisan geologi dari Badan Geologi Kementerian ESDM,” Eko Kurniawan Bandjolu, peneliti ekosistem Danau Poso dari Institut Mosintuwu menjelaskan.

Di sisi lain Pemkab Poso terus berupaya menyosialisasikan pentingnya perlindungan dan pelestarian objek-objek bersejarah dan bernilai yang ada di sekitar Danau Poso kepada masyarakat sekitar danau.

Langkah itu dinilai penting untuk membangun kesiapan masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasannya jika status geopark diberikan kepada Danau Poso.

“Ada sekitar 20 titik kawasan sekitar Danau Poso yang menjadi prioritas sosialisasi kami. Masyarakat bisa mendapat manfaat dari pengelolaan wisata nantinya,” Bupati Poso, Verna Gladis Merry Inkiriwang mengatakan.

Verna memastikan pihaknya mendukung penuh upaya penetapan Danau Poso menjadi Situs Geologi Nasional dan Geopark Warisan Dunia.

Bupati Poso, Verna Gladis Merry Inkiriwang. (Foto: Heri/rindang.id)

Penetapan status itu bisa menguatkan upaya perlindungan bahkan konservasi keanekaragaman hayati dan budaya di sekitar danau yang melintasi lima kecamatan itu sebab membuka pintu bagi kolaborasi yang lebih luas bahkan internasional.

Danau Poso sendiri menurut Pusat Penelitian Limnologi Indonesia juga digolongkan sebagai danau purba karena merupakan hasil aktivitas tektonik pertemuan lempeng timur dan barat sejak belasan juta tahun.

Luas danau itu mencapai 323 kilometer persegi dengan kedalaman maksimum mencapai 450 meter.