“Sejak diterapkannya teknologi Sanitary Landfill, TPA Kawatuna sekarang ini sudah sangat berbeda, tidak ada lagi gunungan sampah, ternak, dan tidak bau lagi. Kalau tidak percaya silakan datang dan lihat sendiri,” kata Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Mundzir dalam suatu kesempatan.

RINDANG, PALU | Tempat Pembuangan Akhir ((TPA) sampah Poi Panda di Kelurahan Kawatuna sedang berbenah. Ia sedang menapaki jalannya menuju kawasan yang lebih ramah lingkungan dan jauh dari citra buruk seperti jorok, bau dan semrawut ala tempat pembuangan sampah pada umumnya.

Jalan itu sedang dilaluinya, diawali ketika teknologi sanitary landfill diterapkannya 2023 lalu. Teknologi ini terbilang baru, dan TPA Kawatuna, meski relatif kecil dibanding TPA Bantar Gebang Jakarta, Sarimukti Jabar, Jatibarang Semarang, Suwung Bali, atau Antang Makassar, namun TPA Kawatuna adalah salah satu dari 12 kota di tanah air yang menerapkan sanitary landfill itu.

Sanitary landfill adalah teknologi pengelolaan atau pemusnahan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah. Penutupan cover soil di sel-sel sampah yang sudah non aktif akan berimbas positif terhadap kondisi lingkungan. Penutupan tersebut nantinya akan mengurangi bau, serta lalat yang banyak di lokasi TPA. Ini juga akan mempercepat proses pembusukan.

Untuk penerapannya dibutuhkan sistem lining, sistem lindi, sistem cover, sistem ventilasi dan monitor, guna mencegah hasil limbah sampah mencemari tanah dan air tanah di sekitar TPA yang akan berbahaya tak hanya bagi lingkungan, namun juga bagi manusia.

tanam pohon kawatuna
Warga membawa bibit pohon untuk ditanam di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Kawatuna, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (24/2/2024). (Foto: bmz)

Bukan itu saja, kalau tahun lalu masih kerap didapati hewan ternak seperti sapi dan kambing berjibaku dengan para pemulung memperebutkan barang bekas, sejak beberapa waktu lalu tidak ada lagi. TPA Kawatuna telah dipagari dan tidak memungkinkan lagi para peternak melepasliarkan ternaknya di kawasan itu.

Alhasil, TPA Kawatuna yang dulunya semrawut dengan tumpukan sampahnya, bau, jorok, banyak lalat dan sering terjadi kebakaran, kini berubah nyaris 180 derajat. Pemandangan kumuh hampir tidak terlihat lagi.

Bahkan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) selaku pemegang otorita TPA tersebut menggagas didirikannya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan tersebut. Itu beralasan saja, karena kondisi TPA Kawatuna yang sudah terkelola baik saat ini sudah sangat memungkinkan kehadiran pedestrian itu.

“Sejak diterapkannya teknologi Sanitary Landfill, TPA Kawatuna sekarang ini sudah sangat berbeda, tidak ada lagi gunungan sampah, ternak, dan tidak bau lagi. Kalau tidak percaya silakan datang dan lihat sendiri,” kata Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Mundzir dalam suatu kesempatan.

tanam pohon kawatuna
Warga menanam pohon trembesi di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Kawatuna, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (24/2/2024). (Foto: bmz)

Gagasan realisasi pembangunan RTH di TPA Kawatuna kini makin mengerucut seiring dengan peringatan Hari Peduli Sampah Naional (HPSN) yang puncaknya akan dilangsungkan di kawasan tersebut.

“Ini sejarah karena baru kali ini ada seremoni kegiatan di tempat pembuangan sampah. Tapi itu normal saja, karena TPA Kawatuna sekarang sudah jauh berbeda dengan sebelumnya,” imbuhnya.

Mendahului seremoni HPPSN itu, pagi sebelumnya ratusan pemulung dan pekerja padat karya bahkan prajurit TNI sudah memulainya dengan menanam pohon trembesi (Samanea saman)  di sekitar kawasan tersebut. (bmz)