RINDANG, PALU | Kolaborasi yang melibatkan banyak pihak menjadi kunci dalam pengelolaan sampah. Salah satunya dengan peningkatan peran pemulung di TPA.

Dalam rantai pengelolaan sampah perkotaan peran pemulung masih kerap diabaikan bahkan luput dari pemberdayaan. Padahal ditingkatan paling awal pemulung menjadi garda terdepan pengelolaan sampah.

Mereka memilah, memilih, dan mengolah kembali sampah menjadi bernilai. Seturut itu timbulan sampah bisa ditekan bahkan pencemaran berkurang.

Peran pemulung itu juga diakui berkontribusi pada raihan Adipura Kota Palu.

Pemulung mencari sampah bernilai ekonomi di TPA Sampah Kawatuna Kota Palu. (Foto: BMZ/rindang.id)

“Harus diakui pemulung adalah garda terdepan pengelolaan sampah yang membantu Kota Palu meraih Adipura,” Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, Ibnu Mundzir mengatakan, Jumat (5/7/2024).

Peran dan fungsi yang vital itulah yang mendorong Pemkot Palu berupaya memberikan dukungan kepada pemulung baik aspek keselamatan kerja maupun kesejahteraan hidup.

Langkah itu mulai dirintis Jumat (5/7/2024). DLH Kota Palu dan UNDP mengenalkan program ‘Peningkatan Pengumpulan dan Daur Ulang Sampah di TPA Kawatuna’.

Ibnu menyebut selain sebagai apresiasi terhadap kerja-kerja pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), program itu juga akan membantu 186 pemulung meningkatkan kesejahteraan.

Para pemulung TPA Kawatuna saat mengikuti sosialisasi ‘Peningkatan Pengumpulan dan Daur Ulang Sampah di TPA Kawatuna’, Jumat (5/7/2024). (Foto: Ibn Mundzir)

“Kami dan UNDP berupaya membenahi infrastruktur kesejahteraan baik pembenahan pemukiman pemulung, gudang maupun aspek keamanan kerja seperti sepatu, sarung tangan dan topi,” Ibnu menjelaskan.

Penguatan kelembagaan pemulung, pembentukan koperasi juga akan diupayakan untuk memastikan ekonomi sirkular berjalan dengan dukungan peralatan pengolahan sampah seperti mesin cacah dan komposter.

Intervensi itu diharapkan mendatangkan kebaikan pemulung dan perbaikan untuk TPA Kawatuna.