PALU, RINDANG | Anggapan bahwa peran perempuan dalam menjaga lingkungan masih minor tampaknya menjadi sekadar stigma. Di Kota Palu misalnya ada kelompok emak-emak pengolah sampah plastik yang inspiratif.

“Semuanya ibu-ibu yang jadi pengurus. Sebulan rata-rata kami bisa mengumpulkan 900 kilogram botol plastik dari warga,” Endang (54 th), pengurus Kelompok Bank Sampah Plastik Kelurahan Talise, Kota Palu, Jumat (9/2/2023).

Endang adalah satu dari puluhan emak-emak di Talise yang sejak pertengahan tahun 2023 lalu berikhtiar mengurangi sampah plastik di Kota Palu dengan cara mereka.

Sampai sekarang sudah ada 120 kepala keluarga yang jadi pemasok botol plastik ke kelompok itu. Tak sekadar menyerahkan sampah plastik, warga juga mendapat manfaat ekonomi sebab untuk 1 kilogram botol plastik Bank Sampah Plastik Talise menghargainya Rp2.500.

“Warga juga kami berikan buku tabungan jika botol plastiknya sudah 20 Kg. Untuk awal uangnya diambil setelah 3 bulan, setelah itu bisa kapan saja,” Endang menceritakan.

Botol-botol bekas yang telah terkumpul di lahan sewaan kelompok itu akan didaur ulang menjadi berbagai barang kerajinan yang bernilai ekonomi.

Aksi yang tak kalah kreatif dari emak-emak itu adalah membuat jasa isi ulang sabun cuci untuk mengurangi timbulan sampah plastik baru khususnya yang berasal dari produk.

Endang mengakui kelomponya masih butuh pengembangan dan pembinaan di antaranya inovasi daur ulang dan lahan.

“Kami masih gunakan lahan sewaan, tidak luas. Makanya kalau banyak botol plastik yang terkumpul masih bersesakan,” kata Endang.

Upaya Kelompok Bank Sampah Plastik Talise itu sesungguhnya turut berkontribusi pada upaya pengurangan sampah terutama plastik di Kota Palu. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu menyebut terdapat lebih dari 200 ton timbulan sampah per hari di Kota Palu yang sebagiannya adalah plastik.

Penanganan sampah jugalah yang kini menjadi prioritas Pemkot Palu untuk mengejar target meraih penghargaan Adipura.