RINDANG, NTT | Konservasi bambu menjadi cara anak-anak Lakoat Kujawas, Kabupaten Timor Tengah Selatan merestorasi lahan kritis.

Upaya pemulihan lahan kritis itu dimulai anak-anak Lakoat Kujawas dengan membibitkan bambu di dalam polybag. Mereka memulainya pada 16 Juni lalu.

Jenis bambu yang dipilih adalah Bambu Petu. Targetnya, setelah 6 bulan bibit-bibit itu akan ditanam komunitas Lakoat di kawasan hutan sosial yang mengalami degradasi. Waktu enam bulan adalah saat yang tepat untuk menanam bibit bambu.

Bambu Petu yang dibibitkan di polybag oleh anak-anak Lakoat Kujawas. (Foto: Iker/rindang.id)

“Kita ambil bibit, ditanam di polybag, nanti diamati pertumbuhannya. Dari bibit ini semoga tumbuh baik supaya bisa ditanam,” Ikerniaty Sandili dari FOLU Net Sink 2030 yang turut dalam kegiatan itu.

Pembibitan dilakukan dengan metode stek cabang. Cara itu dinilai lebih mudah ketimbang cara lain seperti menunggu bambu berbunga untuk menyebarkan bibit yang butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun.

Selain diajarkan pembibitan, anak-anak setempat juga dilatih mengidentifikasi jenis-jenis bambu yang ada di daerah mereka, nama lokal dan bahasa Indonesia-nya, bahkan nama latinnya.

Mengapa Harus Bambu?

Anak-anak Lakoat Kujawas saat belajar mengenal jenis-jenis bambu di lingkungannya. (Foto: Lakoat.Kujawas)

Bambu kata Iker mampu menyerap karbon dengan baik. Tanaman khas Asia itu juga mampu mencegah longsor, dan merestorasi sumber-sumber mata air.

“Selain itu perawatannya lebih mudah. Dan bambu tidak akan habis dipanen,” Iker menjelaskan.

Upaya restorasi lahan kritis dengan konservasi bambu saat ini tengah digalakkan FOLU Net Sink 2030, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari dengan mendampingi sejumlah desa termasuk di NTT.

Agroekologi bambu jadi cara pemulihan lahan dari krisis dan degradasi yang terjadi terutama di lahan hutan sosial.