“Seiring dengan meningkatnya stress akan isu air, risiko konflik lokal atau regional juga meningkat. Pesan UNESCO sangat jelas: jika kita ingin menjaga perdamaian, kita harus bertindak cepat, tidak hanya untuk melindungi sumber daya air tetapi juga untuk meningkatkan kerja sama regional dan global di bidang ini.” ujar Audrey Azoulay – Direktur Jenderal UNESCO.

BALI, RINDANG | UNESCO memperkenalkan versi Bahasa Indonesia dari UN World Water Development Report 2024 pada World Water Forum 2024 yang berlangsung di Bali. Peluncuran ini, yang semula diterbitkan pada bulan Maret, menandai komitmen UNESCO untuk mengakui Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, serta menekankan dedikasinya terhadap inklusivitasas global.

Laporan tersebut menyoroti bahwa konflik terkait air semakin meningkat di seluruh dunia. Menurut laporan ini, untuk menjaga perdamaian, negara-negara harus meningkatkan kerjasama internasional dan perjanjian lintas batas.

“Seiring dengan meningkatnya stress akan isu air, risiko konflik lokal atau regional juga meningkat. Pesan UNESCO sangat jelas: jika kita ingin menjaga perdamaian, kita harus bertindak cepat, tidak hanya untuk melindungi sumber daya air tetapi juga untuk meningkatkan kerja sama regional dan global di bidang ini.” ujar Audrey Azoulay – Direktur Jenderal UNESCO.

“Air, ketika dikelola secara berkelanjutan dan adil, dapat menjadi sumber perdamaian dan kesejahteraan. Air juga merupakan kebutuhan pokok pertanian, penggerak sosial-ekonomi utama bagi miliaran manusia.” kata Alvaro Lario – Presiden Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) , dan Ketua UN-Water.

Menurut laporan baru yang diterbitkan oleh UNESCO, atas nama UN-Water, saat ini 2,2 miliar orang di dunia masih hidup tanpa akses untuk air minum yang aman, dan 3,5 miliar masih kekurangan akses terhadap sanitasi yang dikelola dengan aman. Target PBB untuk menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang bekelanjutan untuk seluruh masyarakat pada tahun 2030, masih jauh dari harapan, bahkan terdapat kekhawatiran bahwa ketidaksetaraan dalam akses air berpotensi untuk terus meningkat.

Lebih lanjut, laporan ini memaparkan antara tahun 2002 dan 2021, kekeringan mempengaruhi lebih dari 1,4 miliar orang. Pada tahun 2022, hampir separuh populasi di dunia mengalami kelangkaan air yang cukup parah, sementara seperempat menghadapi tingkat stres air yang esktrem. Dimana masyarakat telah menggunakan lebih dari 80% sumber air bersih terbarukan tahunan mereka. Dengan perubahan iklim, dapat diperkirakan adanya peningkatan frekuensi dan intensitas fenomena ini, dengan risiko akut bagi stabilitas social semakin nyata.

Seiring berlangsungnya World Water Forum 2024, edisi Bahasa Indonesia dari laporan ini tidak hanya mengungkap isu-isu kritis terkait air, tetapi juga memperlihatkan upaya UNESCO untuk memperluas akses informasi. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperkuat pemahaman dan kerjasama global dalam mengatasi tantangan pengelolaan air, serta mengembangkan solusi berkelanjutan dan mempromosikan perdamaian. (bmz/*)