RINDANG, PALU | Upaya membangun kemandirian warga mengelola sampah dilakukan secara kolaboratif di Hunian Tetap (Huntap) Mandiri di Kelurahan Mamboro, Kota Palu.

Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu menyebut ada 4000 ton sampah yang tidak terkelola setiap tahun dari total rata-rata 74000 ton timbulan sampah per tahunnya.

Data itu cukup membuktikan pentingnya membangun kemandirian warga untuk mengelola sampah yang ditimbulkannya.Dan upaya itu tengah digagas di Huntap Mandiri ‘Mosinggani’ Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara yang merupakan hunian penyintas gempa dan tsunami.

Bersama Arsitek Komunitas (Arkom Palu), Yayasan Rubalang, dan Mahasiswa Magang dan Studi Independent Bersertifikat (MSIB) kelompok warga di lokasi itu melakukan audit timbulan sampah mereka.

Pencatatan sampah keluarga saat audit sampah di Huntap Mosinggani Mamboro, Kota Palu. (Foto: rindang.id)

Audit sampah yang melibatkan sekitar 20 KK dengan 151 jiwa itu dilakukan selama 7 hari sejak 1 hingga 7 April 2024. Cara itu menjadi dasar bagi warga menentukan langkah pengelolaan hingga pemanfaatan sampah di permukiman mereka.

Hasil audit itu menunjukkan rata-rata per hari warga menghasilkan sampah organik atau basah sebanyak 4 sampai 10 kg, non-organik 2 sampai 5 kg, dan B3 sebanyak 1 sampai 5 kg.

Jika ditotal selama 7 hari maka timbulan sampah dari masing-masing jenis sampah itu yakni 164,91 kg sampah organik, non-organik 67,16 kg, dan 33,3 kg jenis B3.

“Dari hasil audit sampah itu kami menemukan beberapa poin mencegah penumpukan sampah. Seperti pembuatan tongko komposter mandiri yang bisa digunakan sebagai media tanam untuk ketahanan pangan warga Huntap Mamboro,” Abdy Saputra, Sukarelawan Arkom Palu menjelaskan.

Cara lain pengurangan sampah yang tengah diupayakan warga yakni Ekobrik, yaitu sistem pembuatan material bangunan seperti bata atau beton yang memanfaatkan sampah plastik sebagai bahannya. Ekobrik juga berpotensi menjadi sumber ekonomi warga.

Penimbangan sampah saat audit sampah di Huntap Mosinggani, Kelurahan Mamboro, Kota Palu. (Foto: rindang.id)

Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu sendiri mengapresiasi upaya mandiri warga itu karena bisa memutus cara penanganan end pipe atau

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) centris.

Rumah tangga kata Ibnu menjadi garda awal pengurangan sampah di Kota Palu.

Sampah rumah tangga memang menjadi masalah tersendiri di Kota Palu. Data menunjukkan di antara puluhan ribu ton sampah pertahun di Kota Palu sebanyak 71 persen adalah jenis sisa makanan, 10,4 persen sampah plastik, dan 9,4 persen sampah logam.

“TPA selama ini menjadi tempat andalan terakhir, namun yang perlu dilakukan adalah mengurangi sampah dari sumbernya yakni rumah rangga,” Sekretaris DLH Kota Palu, Ibnu Mundzir menjelaskan.